Tuesday 8 March 2016

Gadis Pemuas: Di Dalam Hutan Lebat




Akhirnya lama kelamaan aku mulai sadar, aku merasakan kepalaku sakit sekali karena terbentur batu, kepalaku juga berdarah, aku menyeka darahku dengan punggung tanganku. Lalu aku perlahan bangun dengan sakit yang masih terasa di kepalaku, setelah kondisi badanku sudah tenang, aku baru ingat kalau sebelum aku pingsan aku sedang dikejar-kejar segerombolan orang yang aneh. Kemudian aku melihat sekitarku tapi percuma saja karena keadaan yang gelap gulita, karena aku sama sekali tidak mengenakan apa-apa di tubuhku, dinginnya malam menusuk sampai ke tulangku. Aku bingung harus kemana karena aku hanya melihat pohon-pohon tinggi yang menghalangi pandanganku tapi aku bisa mendengar ada suara aliran air karena suasana sangat sepi sekali. Aku memutuskan untuk mencari dimana aliran air itu, jadi aku masuk ke dalam hutan yang lebat.Ternyata lumayan jauh, tapi akhirnya sampai juga. Karena aku sangat haus, aku tidak memperdulikan lagi betapa dinginnya air sungai itu, setelah beberapa teguk tenggorokanku terasa sangat segar, selain meminum air sungai aku juga mencuci dahiku yang berdarah serta wajahku. Karena tanggung aku sekalian saja membasuh tubuhku juga, tapi akibatnya, setelah selesai aku menggigil karena sangat dingin, aku sedang berpikir bagaimana caranya agar tubuhku hangat.
“mendingan gue lari di tempat aja”, pikirku. Kemudian aku mulai lari di tempat untuk menghangatkan tubuhku, setelah badanku sudah agak hangat, aku berhenti lari di tempat. Tiba-tiba aku mendengar suara dari semak-semak, aku langsung menoleh ke sumber suara itu dan melihat disana ada sekelompok serigala yang sedang mengintaiku, aku bingung harus bagaimana jadi aku langsung lari dari tempat itu, tentu saja para serigala itu langsung mengejarku ke dalam hutan. Ketika aku sudah terkejar oleh para serigala itu, aku menginjak perangkap jala dan aku langsung tertarik ke atas. Setidaknya aku selamat dari para serigala itu, dan aku bisa beristirahat sebentar.

Aku bangun ketika aku merasakan tangan dan kakiku diikat, setelah aku membuka mataku rupanya aku tangan dan kakiku diikat di kayu yang sedang digotong oleh 2 orang yang berkulit hitam. Aku merasa seperti hasil buruan yang baru ditangkap oleh mereka, aku hanya menutup mataku dengan pasrah karena aku mengira sebentar lagi aku akan dibunuh dan mungkin dimakan oleh mereka. Tak lama kemudian, tubuhku terasa berhenti bergoyang-goyang, aku membuka mataku melihat orang-orang berdiri mengelilingiku, lalu tubuhku ditaruh secara perlahan, dan ikatan di kaki dan tanganku dilepaskan. Baru aku berpikir untuk menerobos kerumunan orang-orang hitam yang mengelilingiku, tubuhku sudah diangkat oleh 2 orang yang membawaku tadi ke tiang kayu yang sangat besar dan terletak di atas tempat yang seperti panggung. Mereka mendirikanku disana dan mengikat pergelangan tangan dan kakiku lagi di tiang kayu itu, setelah mengikatku kedua orang hitam itu turun dari panggung dan masuk ke sebuah tenda berbentuk aneh yang kuduga tenda itu adalah rumah mereka.
Sementara aku seperti menjadi tontonan di atas panggung oleh orang-orang yang berdiri di depanku. Tubuhku yang putih mulus dapat terlihat jelas oleh mereka, dan karena mereka tidak memakai apa-apa aku bisa melihat penis para lelaki hitam itu mulai menegak karena melihat tubuhku, dan para wanitanya menelusuri setiap senti tubuhku, mulai dari wajah, payudara, perut, selangkangan, paha, sampai kakiku dengan mata mereka. Lalu dari sebuah tenda yang lebih besar dari tenda-tenda yang lain keluar 4 orang, 2 orang adalah orang yang tadi membawaku, 1 orang lagi badannya bungkuk dan membawa tongkat memakai baju dan celana, sedangkan 1 orang yang terakhir badannya tegap dan besar, dan memakai baju dan celana yang sepertinya terbuat dari bulu hewan. Mereka mendekat ke arahku, mereka berdiri disana menatap tubuhku dari kepala sampai kaki.
“zufubaba,,,,,gikaluno”.
“tidak, jangan bunuh aku”.
“fagira kohkulune,,,jaemkahuwaeti”.
“tidak, jangan makan aku”.

Karena aku tidak mengerti bahasa mereka, aku mengira mereka akan membunuh dan memakanku, tapi aku kaget ketika pria bungkuk itu berbicara.
“tenang saja, gadis muda. Kami tidak akan membunuhmu apalagi memakanmu”.
“kamu bisa bahasa Indonesia?”.
“ya, tapi kita bahas nanti saja”.
“zokulafa,,,homura,,,pokeramu”, kata pria bungkuk itu kepada semua orang, lalu semua orang itu pergi melakukan aktivitas yang lain, sementara 3 orang yang tadi datang bersama si pria bungkuk turun dari panggung dan masuk ke dalam tenda.
“ayo, nona, mari ikut saya ke rumah saya”.
“baik, terima kasih pak”. Lalu ikatanku dilepas dan dituntun masuk oleh pria bungkuk ke rumahnya, setelah di dalam aku disuguhi minuman dan makanannya lalu mengobrol dengannya.
“perkenalkan, nama saya Ulfsaar,, saya adalah seorang dukun di desa ini”.
“namaku Rasti, ngomong-ngomong ini dimana?”.
“ini di pulau Harla, pulau yang sangat terpencil”.
“oooh begitu, tadi yang lain pada ngomong apa sih?”.

“begini, nak Rasti dianggap dewi kesuburan dan juga dewi kekuatan”.
“kok bisa kayak gitu?”.
“iya, karena tubuh kamu yang putih mulus dan juga seksi, kepala suku jadi menganggap kamu adalah seorang dewi”.
“kepala suku, maksud pak Ulfsaar yang memakai baju tadi?”.
“ya, di desa ini yang boleh memakai baju dan celana hanya kepala suku dan juga dukun”.
“oohh begitu,,”.
“ngomong-ngomong kok kamu bisa sampai kesini?”.
“kecelakaan pesawat, untungnya aku ditolong jadinya aku bisa selamat”.
“terus, orang yang nolong kamu sekarang dimana?”.
“udah meninggal, dibunuh ama orang-orang berkulit hitam yang pake topeng”.
“pake topeng? Untung kamu bisa selamat”.
“memang kenapa?”.
“mereka adalah suku Kupo yang merupakan musuh suku kami yaitu suku Baro. Mereka adalah suku kanibal yang sudah banyak memakan anggota suku kami, jadi kami memutuskan untuk berperang dengan mereka 3 hari lagi”.
“ooohh, begitu, untung aku bisa lari, tapi kalian gak kanibal kan?”.
“gak, tenang aja kok”.
“tenang deh, ngomong-ngomong bahasa indonesia pak Ulfsaar lancar banget?”.
“saya punya teman yang tinggal di pulau Jawa”.
“ooh, gitu”.

“nona, boleh gak saya manggil nama kamu, terus pake aku-kamu?”.
“boleh kok pak, oh ya aku kan jadi dewi terus gimana?”.
“oh ya, aku hampir lupa, ayo aku antar kamu ke sungai buat mandi”.
“mandi? Emangnya mau ada apa?”.
“kepala suku ingin ngecek kamu dewi beneran atau gak”.
“caranya?”.
“kamu akan disetubuhi oleh kepala suku, kamu gak keberatan kan?”.
“gak kok, aku malah seneng, tapi kenapa gak bapak aja yang ngetes aku?”, balasku sambil menjilat pipinya.
“gak boleh, harus kepala suku yang pertama kali mencicipi tubuhmu baru aku dan semua pria dewasa di desa ini”.
“semua pria….?”.
“ya, dan rata-rata semua pria disini mempunyai penis yang ukurannya lebih dari 20 cm”.
“waw, tapi aku masih bingung gimana caranya aku dianggap dewi beneran?”.
“kepala suku akan menyetubuhimu dalam waktu 2 jam, jika dalam 2 jam kamu gak pingsan, kamu bakal dianggap dewi beneran”.
“2 jam?! Kalau gitu aku bisa bener-bener puas donk”.

“yaudah, aku cek vagina kamu dulu”, lalu dia jongkok di depan vaginaku, dia melebarkan bibir vaginaku dari 2 jari kirinya, dan memasukkan 2 jari kanannya ke dalam vaginaku dan menggali dalam-dalam di vaginaku.
“hmm,, vagina kamu sangat sempit, pasti kepala suku bakalan suka, yaudah sekarang kamu mandi dulu”. Kemudian aku dituntun keluar, orang-orang itu langsung menatapku, aku hanya tersenyum karena aku tidak bisa bahasa mereka. Di sungai, aku membasuh tubuhku yang lusuh dengan air sungai yang jernih dan menyegarkan sementara Ulfsaar menikmati pemandangan tubuh putih wanita cantik yang dibasuh dengan air, mungkin ini pemandangan paling indah yang pernah dilihat olehnya. Setelah mandi, Ulfsaar menuntunku kembali ke desa.
“Rasti, boleh gak aku ngeremes dada kamu?”.
“loh, bukannya harus kepala suku dulu yang merawanin tubuhku?”.
“kan cuma ngeremes doang, jadi boleh”.
“kalau boleh sih, yaudah silakan”.
“makasih, abisnya dada kamu montok banget”. Lalu dia meremas-remas dadaku dan memelintir kedua putingku selama perjalanan.

Ketika sudah hampir masuk desa, dia berhenti meremas-remas payudaraku. Ternyata para suku Baro sudah menunggu di depan tempat yang seperti panggung itu sementara si kepala suku sudah berdiri di atas panggung itu seperti menantiku.
“oh ya, Rasti kepala suku bernama Utha”. Kemudian dia menuntunku ke atas panggung, lalu menyerahkan tanganku ke Utha dan Ulfsaar turun dari panggung. Genderang drum berbunyi membuat irama musik yang membuatku bersemangat, Utha mulai mengelus-elus kepalaku, kemudian dia mulai melumat bibirku yang mungil dengan bibir tebal dan hitam miliknya, Utha memainkan lidahnya di dalam rongga mulutku, aku membalasnya dengan memainkan lidahku juga sehingga lidah kami saling membelit. Aku berciuman dengannya sangat lama seperti sepasang kekasih yang berpuluh-puluh tahun tidak bertemu. Setelah puas melumat bibirku, Utha melepaskan ciumannya sehingga terlihat ludah kami yang menyatu, kemudian dia mulai menurunkan ciumannya ke leher jenjangku, aku hanya menutup mataku untuk lebih meresapinya.

Ciumannya terus turun hingga sampai di payudaraku yang kenyal, Utha melumat senti demi senti dari bongkahan payudaraku, sementara putingku dihisap-hisap dan digigit kecil yang membuat putingku menjadi sangat keras. Setelah dia mulai menurunkan ciuman dan jilatannya lagi, aku bisa bekas-bekas merah di kulit payudaraku, ciuman Utha sampai di pusarku, dia menggelitikku dengan memainkan lidahnya di sekitar pusarku. Aku melihat orang-orang lain termasuk Ulfsaar sangat serius sekaligus terangsang melihat kepala suku mereka sedang asyik mengerjai tubuh putih seorang cewek muda yang sangat cantik. Akhirnya ciumannya sampai di vaginaku, Utha langsung memainkan klitorisku dengan lidahnya, tubuhku menggelinjang keenakan. Lidah Utha yang kasar membuat jilatannya jadi semakin terasa nikmat yang menjalar di seluruh tubuhku, dan juga dia menjilati bibir vaginaku serta menyentil-nyentil klitorisku dengan lidahnya, karena aku tidak kuat menahan rasa nikmat lagi, 5 menit kemudian aku orgasme.
Cairanku diseruput habis oleh Utha, setelah habis meminum cairanku.
“lafura zagofamu…”.
“Rasti, kepala suku suka ama cairan kamu, manis banget katanya”, aku hanya tersenyum. Sepertinya Utha sudah tidak sabar ingin menancapkan batang kejantanannya itu ke dalam vaginaku yang sangat sempit, lalu Utha mulai melepaskan celananya yang hanya berupa sepotong kain itu. Betapa terkejutnya aku, ternyata penis Utha lebih besar dibandingkan penis-penis yang pernah aku ‘handle’, aku mentaksir penis Utha mempunyai panjang 29 cm dan diameternya 10 cm. Pertamanya sih aku agak takut juga melihat penis sebesar itu, tapi aku juga jadi tidak sabar ingin merasakan kenikmatan dari penis perkasa itu. Lalu aku tidur terlentang di atas panggung sehingga vaginaku yang merah merekah terpampang jelas di hadapan orang-orang yang menonton, aku memberi isyarat dengan telunjukku kepada Utha seolah menantangnya untuk segera ‘mencoblosku’.

Sepertinya Utha mengerti maksudku, karena dia langsung meletakkan kepala penisnya itu di depan bibir vaginaku. Dia mulai memasukkan kepala penisnya ke dalam vaginaku secara perlahan, biarpun kelihatan seram dan kekar rupanya dia tidak ingin membuat aku kesakitan mungkin juga karena aku dianggap dewi jadi dia takut kalau aku sampai marah. Seperti yang sudah kuduga, penisnya tidak bisa semuanya masuk ke dalam vaginaku, mungkin hanya 3/4 nya saja. Ketika terasa sudah tak bisa masuk lagi, Utha mulai memompa penisnya, aku merasa vaginaku menjadi bertambah lebar karena diameter penis Utha yang besar. Tapi, lama kelamaan rasa sakit itu hilang seiring dengan rasa nikmat yang semakin menjalar di tubuhku karena urat-urat penis Utha terus menerus bergesekan dengan dinding vaginaku. 15 menit kemudian, aku orgasme untuk yang kedua kalinya tapi Utha masih kelihatan tenang memompa vaginaku dan tentu saja sambil melumat bibir mungilku dan memainkan lidahnya di rongga mulutku, aku hanya bisa membiarkan lidahnya bermain di mulutku dan kubalas membelit lidahnya dengan lidahku.
Sudah sejam, si kepala suku Utha memompa penisnya di dalam vaginaku, aku sudah lebih dari 5 kali orgasme tapi dia belum orgasme. Akhirnya, beberapa menit kemudian aku merasakan urat-urat penisnya berdenyut di dalam vaginaku dan dia juga mempercepat sodokannya. Aku merasakan semburan spermanya sangat hangat dan juga sepertinya dia menyemburkan spermanya ke dalam vaginaku sampai lebih dari 7 kali sempuran sehingga aku merasakan spermanya meleleh keluar dari vaginaku. Setelah semburan spermanya berhenti, Utha beristirahat sebentar dengan penisnya yang sudah mulai mengecil masih tertanam di vaginaku. Kemudian, setelah nafasnya sudah tidak tersengal-sengal, dia mencabut keluar penisnya dari vaginaku, sementara aku yang sudah mengumpulkan tenagaku kembali langsung bangun dan mengulum penis Utha yang berlumuran dengan spermanya serta cairanku sendiri sehingga rasa sperma Utha dan cairanku bercampur sehingga tercipta rasa yang sangat kusukai.
Sambil kukulum, Utha bertolak pinggang dan menoleh ke Ulfsaar.
“hia,,,firaniho,,,ukani,,,paemi”.
“hia,,,das parehotuma”. Setelah aku melepaskan kulumanku, Utha langsung turun dari panggung dan masuk ke rumahnya.
“hia,,,pahorutami,,,farhu”, kemudian orang-orang itu bersorak gembira.
“Ulfsaar, tolong ceritain dong, tadi kamu ngomong apaan aja”.
“oh ya, aku lupa, gini,, kepala suku udah percaya kalau kamu seorang dewi kesuburan dan kekuatan”.
“terus,, apaan lagi?”.
“karena kamu udah dianggap dewi, jadi mulai sekarang kalau kepala suku udah selesai menyetubuhi kamu, aku dan semua laki-laki yang mulai umur 18 tahun harus menyetubuhi kamu juga”.
“haaahh,, emang ada berapa cowok yang harus aku layani?”.
“sekitar 20 orang,, kamu gak apa-apa?”.
“gak apa-apa kok, aku malah seneng”.
“yaudah Rasti, sekarang aku duluan ya”. Ternyata penis Ulfsaar tidak sebesar penis Utha, penisnya hanya berukuran 18 cm dan diameternya 5 cm, tapi teknik memompanya lebih bervariasi.

Sudah 1 jam tubuhku digenjot oleh Ulfsaar, sudah beberapa kali aku orgasme, selain tekniknya bervariasi, dia juga menyelingi dengan mencumbuku serta menjilati kedua buah payudaraku. Tak disangka 1/2 jam ke depan, Ulfsaar masih getol memompa penisnya ke dalam vaginaku, sedangkan aku sudah mulai kelelahan akibat orgasme terus menerus. Akhirnya, Ulfsaar menyemburkan spermanya ke dalam vaginaku, aku menutup mataku untuk lebih merasakan hangatnya semburan sperma Ulfsaar di vaginaku. Seperti sebelumnya, aku melakukan ‘cleaning service’ ke penis Ulfsaar sambil mengumpulkan tenaga. Setelah penisnya sudah bersih, Ulfsaar mencabut penisnya dari mulutku.
“nah, Rasti, abis ini kamu bakal terus-terusan disetubuhi, kamu udah siap?”.
“aku siap kapan aja kok, asalkan ada selang waktunya”. Kemudian, Ulfsaar turun dari panggung dan mulailah tubuhku digunakan oleh orang-orang hitam itu untuk memuaskan nafsu mereka dan vaginaku dijadikan tempat pembuangan sperma mereka.

Tubuhku dilanda orgasme terus menerus, tapi aku masih kuat karena masih ada selang waktu antara satu laki-laki dengan laki-laki yang lain sehingga aku bisa mengatur nafas dan mengumpulkan tenaga sebelum melayani laki-laki yang selanjutnya. Penis yang tertanam di vaginaku bermacam-macam ukuran mulai dari kecil, sedang, maupun sangat besar meskipun tidak sebesar penis Utha. Setelah semuanya selesai dan matahari sudah muncul, Ulfsaar memapahku untuk berjalan ke rumahnya, aku berjalan dengan sperma yang menetes dari daerah selangkanganku karena daerah itu benar-benar dibanjiri sperma. Akhirnya, aku sampai di dalam rumah Ulfsaar, kemudian aku dibaringkan di tempat tidurnya, dengan telaten, Ulfsaar membersihkan daerah selangkanganku yang ‘kebanjiran’ sperma. Sementara, aku sudah sangat kelelahan sehingga aku menutup mataku dan lalu tidur. Aku membuka mataku dan melihat Ulfsaar sudah tidak ada, aku bangkit dari tempat tidur Ulfsaar dan keluar, ternyata matahari sudah mencuat di atas.
Ketika aku keluar dari rumah, warga sekitar menyapaku dengan bahasa mereka, aku hanya bisa tersenyum karena aku tidak mengerti bahasa mereka. Aku merasa badanku gatal-gatal, aku memutuskan untuk mandi di sungai terdekat, sungai yang ditunjukkan Ulfsaar waktu itu. Ternyata, Ulfsaar sedang melakukan sesuatu di tepi sungai.
“Ulfsaar, kamu lagi ngapain?”.
“oohh, aku lagi bikin ramuan”.
“ramuan apaan? Kok aneh gitu sih”.
“ini, ramuan buat kamu”.
“buat aku?”.
“iya, kepala suku ingin minum susu kamu”.
“susu aku?? gimana caranya, kan aku belum pernah hamil?”.
“makanya, aku bikin ramuan ini, supaya kamu bisa ngeluarin susu”.
“terus, ada manfaat lain gak?”.
“ada, kulit kamu jadi putih ‘n kencang, dan payudaramu tetep kenceng, tapi payudara kamu bisa membesar”.
“mantep banget khasiatnya, tapi payudaraku bisa sampai seberapa gede?”.
“38C mungkin, kamu gak apa-apa kan?”.
“38C?! Ya gak apa-apa, kebetulan aku juga lagi pengen ngegedein dada aku, tapi ada efek negatifnya gak?”.
“kalau ramuan ini, gak ada efek negatifnya”.
“yaudah, sini aku minum”. Kemudian aku meminum ramuan itu.

“kok rasanya hambar?”.
“iya, sebenarnya rasa ramuan itu pahit, tapi aku tambahin madu biar gak pahit”.
“ooh gitu, yaudah aku mandi dulu ya”. Kemudian, aku mulai membilas tubuh putihku dengan air sungai yang dingin dan menyegarkan itu. Aku sengaja sedikit membilas tubuhku dengan agak menggoda agar Ulfsaar menjadi bernafsu, benar dugaanku Ulfsaar langsung mendekatiku dan mendekap tubuhku dari belakang, lalu menciumi leherku dan sekitar kupingku.
“udah, mendingan kita mandi bareng aja yuk, mau gak?”.
“yaudah, aku buka baju dulu ya”. Dalam sekejap, Ulfsaar sudah telanjang bulat. Tubuhnya yang hitam dan sudah bungkuk serta penisnya yang sudah menegang itu terpampang jelas di hadapanku. Kemudian, Ulfsaar mendekati tubuh putihku yang tidak terbalut apa-apa dan langsung memelukku, aku juga membalasnya dengan memeluknya. Lalu kami berdua saling mencumbu, sementara kedua tangannya memegangi bongkahan pantatku sambil memasukkan jarinya ke dalam lubang anusku.

“Rasti, kayaknya pantat kamu sempit banget ya”.
“emang kenapa, bapak mau coba?”.
“mau banget sih, tapi harus kepala suku dulu yang merawanin pantat kamu”.
“oh ya, aku lupa, yaudah tusuk vaginaku aja”.
“tapi sebelumnya, aku mau ngerasain vagina kamu dulu”.
“yaudah, aku tiduran dulu”. Kemudian aku tiduran dan melebarkan kakiku untuk memberikan akses pada Ulfsaar. Tanpa disuruh lagi Ulfsaar langsung membenamkan wajahnya ke selangkanganku, dan langsung menjilati daerah sekitar vaginaku, aku baru sadar kalau lidah Ulfsaar sangat panjang. Ulfsaar menjilati bibir vaginaku mulai dari kiri ke kanan, menjilati klitorisku, dan juga menjilati vaginaku dari atas ke bawah, serta memasukkan lidahnya yang panjang itu ke dalam lubang vaginaku. Aku menggelinjang kesana kemari karena tekstur lidah Ulfsaar yang kasar menambah sensasi nikmat di vaginaku, belum lagi lidahnya bisa masuk ke dalam vaginaku, sehingga lidahnya yang panjang itu bisa menyentuh dinding vaginaku dan pastinya itu menambah kenikmatan.

5 menit kemudian, tubuhku mengejang ke atas menandakan tubuhku mengalami orgasme.
“aaakkkhhh,,,,aku,,,keluaaar!!”. Ulfsaar tidak membuang waktu lagi, cairanku langsung diseruput habis olehnya, dan juga setelah cairanku habis diminum olehnya, Ulfsaar masih menyedot-nyedot vaginaku hingga tetes terakhir, setelah cairan vaginaku benar-benar habis diminumnya, Ulfsaar bangun.
“kamu kayak orang aus aja, sampai disedot-sedot kayak gitu”.
“abisnya, cairan kamu manis banget kayak madu”.
“ah, kamu berlebihan”.
“bener kok, aku jadi ketagihan, boleh lagi gak?”.
“boleh kok, pokoknya tubuhku boleh diapain aja ama kamu”.
“yaudah,,, aku jilatin vaginamu lagi ya”.
“tapi sekarang kamu yang tiduran, soalnya aku juga pengen ngerasain penis kamu”. Lalu, Ulfsaar tiduran di atas tanah dan aku tidur di atas tubuhnya dan mengambil posisi 69 sehingga vaginaku di depan mukanya, dan juga penis Ulfsaar menantang tegak di depan wajahku. Langsung aja, aku masukkan penis Ulfsaar ke dalam mulutku, sementara vaginaku sudah mulai dijilati lagi oleh Ulfsaar.

Aku mulai menjilati batang penisnya, kepala penisnya, dan buah zakarnya. 4 menit kemudian, aku orgasme lagi dan cairanku diminum oleh Ulfsaar sampai habis.
“yuk, Rasti, aku udah gak tahan pengen nusuk kamu”.
“yaudah, kamu tetep tiduran aja, biar aku yang kerja duluan nanti baru kamu”. Aku berdiri di atas penisnya, dan mulai menurunkan tubuhku secara perlahan, dengan tuntunan tanganku, penis Ulfsaar menerobos masuk ke dalam vaginaku. Aku menggerakkan tubuhku naik turun, dan juga kadang-kadang aku menurunkan tubuhku agar aku bisa mencumbu Ulfsaar. Setiap 30 menit, kami berganti posisi, dan setelah 1 1/2 jam kami bersetubuh akhirnya penis Ulfsaar mulai berdenyut, aku memintanya untuk menyemburkan spermanya di dalam mulutku. Setelah penisnya dicabut, aku langsung mengulum penisnya. Kuemut kepala penisnya, kusentil-sentil lubang kencingnya dan kadang-kadang kujilati buah zakarnya, akhirnya hadiah yang kutunggu-tunggu keluar juga.

Sperma hangat Ulfsaar langsung menyemprot ke dalam mulutku yang langsung kutelan habis, setelah habis aku masih mengulum penisnya untuk mendapatkan sisa-sisa sperma yang ada di lubang kencingnya. Kemudian aku melepaskan penisnya yang sudah mulai mengecil, dan aku melihat suatu barang di tepi sungai.
“Ulfsaar, benda apa itu?”.
“aku tidak tau, aku menemukannya di pantai”.
“ah, itu tasku”, dengan segera aku menghampiri tasku, tapi tidak ada baju karena semua bajuku ada di koper bukan di tas. Tasku hanya berisi pil pencegah kehamilan, hpku, dan alat-alat kosmetikku. Tapi, sayangnya hpku rusak karena terendam air, hilang sudah harapanku untuk bisa pulang.
“Rasti, kita balik ke kampung yuk”.
“emangnya, mau ada apaan lagi?”.
“habis ini, kepala suku bakal merawanin anus kamu, dan setelah itu semua laki-laki akan menyodok anus kamu”.
“kalau gitu, aku minum obat dulu ya, biar aku gak hamil”.
“oo, yaudah”. Kemudian aku merogoh tas kecilku dan menemukan obat, ternyata selain pil pencegah kehamilanku, ada pil obat kuat milik Mang Ucup waktu itu yang bisa membuatku segar terus menerus meskipun aku terus menerus orgasme.

“Ulfsaar, abis aku minum obat ini, aku bakal pingsan, kamu gendong aku balik ke pemukiman ya”.
“yaudah, ok”. Kemudian, aku minum obat kuat Mang Ucup dan juga pil pencegah kehamilanku. Dalam waktu 5 menit, kepalaku pusing dan langsung pingsan, aku sudah tidak sadarkan diri. Dan sebentar lagi tubuhku akan menjadi sarana pelampiasan nafsu suku Baro.


Gadis Pemuas: Program Diet


Setelah 2 tahun sejak aku mendapat kecelakaan, sekarang aku sudah kuliah mengambil jurusan design graphis karena memang itulah hobiku. Tak disangka sejak kejadian itu, tubuhku sekarang menjadi tambah sekal saja karena payudaraku kini berukuran 36B dan bongkahan pantatku semakin kencang dan padat, juga kulitku semakin putih karena aku rajin merawat tubuhku. Oh ya, gara-gara kejadian kecelakaan pesawat 2 tahun lalu, aku bisa mengeluarkan susu dari putingku meskipun umurku baru 19 tahun dan aku juga belum pernah hamil, ini dikarenakan aku meminum suatu ramuan dari suku yang merawatku ketika aku terdampar di sebuah pulau. Dan 7 bulan lalu aku mengalami sebuah kecelakaan yang mengakibatkan aku menjadi mandul, aku sedih karena rencanaku sehabis kuliah aku ingin mencari pendamping hidup dan mengakhiri petualangan-petualangan gilaku, tapi ternyata takdir berkata kalau aku tidak boleh berhenti menjalani petualangan sex yang gila.
Sebenarnya aku sudah bosan karena dari SD, SMP, SMA, bahkan sampai kuliah aku menjadi primadona, tapi apa mau dikata, mungkin sudah menjadi kodratku. Dan resikonya menjadi primadona, ya banyak cowok yang berusaha pdkt padaku, mulai dari cowok kaya, cowok ganteng, bahkan sampai cowok yang pinter berusaha mati-matian untuk dekat-dekat denganku. Tapi dari mereka semua tak ada yang kuanggap serius karena aku memang malas punya pacar, dan temanku tidak hanya cowok saja tapi temen cewekku juga segudang karena aku tidak pernah menolak siapapun yang ingin berteman denganku. Ada satu cowok gendut yang selalu diam sendirian, dan dia gemetaran jika kuajak bicara, aku malah jadi penasaran dengan cowok gendut yang biasa dipanggil ‘Big Mac’ itu, dan kebetulan ada tugas final yang harus dibuat oleh 2 orang dalam 1 kelompok. Setelah dosen keluar, para cowok & cewek yang ada di kelas datang ke mejaku untuk memintaku sekelompok dengan mereka, tapi aku ingin menyelidiki si ‘Big Mac’ ini.
“Rasti ama gue ya”.
“ama gue aja, Rasti!!”, teman-temanku saling berebut menginginkanku menjadi teman sekelompok mereka. Aku tidak tau apa alasan teman-teman cewekku menginginkanku menjadi kelompok mereka, tapi aku tau motif utama para cowok ingin aku menjadi teman kelompok mereka yaitu agar bisa puas melihat tubuhku dan mungkin saja mereka berniat memperkosaku.
“maaf, temen-temen, aku udah punya temen kelompok”.
“siapa ?!!”, jawab mereka serentak.
“si Big Mac”. Semuanya langsung menengok kepadanya, sementara Big Mac sendiri menundukkan kepalanya.
“yah,,”.
“sori ya”.
“gak apa-apa kok Ras”, jawab salah seorang temanku. Lalu mereka langsung membubarkan diri, dan Big Mac masih terdiam seorang diri, aku mendekatinya dan duduk di sampingnya.
“Big Mac, gak apa-apa kan kalo gue jadi temen kelompok lo?”.
“nnn,,,ggaa,,kkk,,,apa,,,,apaa”, jawabnya terbata-bata.
“kok kalo ngomong ama gue, lo gemeteran gitu sih?”.
“eeeee,,,,”.
“ayo dong, santai aja kalee”.
“aa,,,bisnya,,,gu,,,gu,,,eee,,”.
“lo kenapa, ngomongnya biasa aja”.
Akhirnya dengan semangat dariku, dia mulai berbicara denganku secara biasa.
“gue gak enak ngomong ama lo”.
“kenapa, gue ngebosenin ya?”.
“bukan gitu, justru kebalikannya”.
“maksud lo apa, sori nih, aku telmi”.
“ya, lo kan cantik masa ngomong ama gue yang jelek kayak gini”.
“ya ilah, gitu doang, ama gue santai aja kalee, lagian kan sekarang kita sekelompok”.
“beneran nih kita sekelompok?”.
“bener, lo mau gak 1 kelompok ama gue?”.
“wuih, gue mau banget, siapa sih yang gak mau sekelompok ama lo”. Big Mac ini mempunyai nama asli yang cukup bagus yaitu Mario Carpest, badannya gendut, wajahnya tidak jelek juga tidak ganteng, kulitnya putih, tingginya sama sepertiku dan tentu saja umurnya sama sepertiku yaitu 19 tahun.
“Mac, berat badan lo berapa sih?”.
“98 kilo”.
“lo gak ada rencana buat ngurusin badan?”.
“ada sih, cuman, gue laper mulu jadi susah deh”.
“huu, dasar lo, eh kita langsung bikin tugas kita yuk, mau gak?”.
“tapi kan, deadline tugas masih 3 hari lagi”.
“iya, gue tau, tapi kalo kita ngerjain duluan kan, besok-besok kita bisa tenang”.
“bener juga apa kata lo”.
“bener kan, lagian lo kan jago tuh jadi 1 hari doang pasti udah selesai”.
“lo kali yang lebih jago”.
“udah, ah jangan merendah, karya-karya lo kan lebih bagus dari punya gue”.
“hehe,, terus kita ngerjainnya di kost gue apa di rumah lo, Ras?”.
“di rumah gue aja yuk biar lebih enak ngerjain tugasnya”.
“ok deh”.
“tapi naik apa ya?”.
“kan gue bawa motor kalo kuliah”.
“oh, lo bawa motor, kenapa gak bilang ama gue dari tadi, yaudah yuk kita berangkat sekarang”.
“yok”. Lalu kami berdua menuju tempat parkir, selama kami jalan berdua, teman-teman kampus yang lain melihat kami, mungkin mereka berpikir “kok Big Mac bisa jalan bareng ama Rasti?”. Setelah sampai di tempat parkir, Big Mac menuju motornya, tak kusangka motornya bagus dan berbodi besar, yah seperti motor yang digunakan pembalap-pembalap internasional.
“wow, motor lo bagus ‘n sesuai ama lo?”.
“maksud lo apa?”.
“iya, motor lo segede yang punya”.
“enak aja lo, ayo cepet”.
“ok big boss”.
Lalu aku naik membonceng di belakangnya.
“ee, Mac, gue boleh pegangan ma lo gak?”.
“boleh aja, lo takut jatoh ya?”.
“iya, gue takut, jadi lo bawanya jangan kenceng-kenceng ya”.
“iye, iye, gampang, udah cepet pegangan”. Aku memeluk badannya yang besar itu dengan erat karena aku memang takut sekali jika naik motor, untungnya Mac mengendarai motor dengan pelan dan hati-hati sehingga aku jadi tidak takut. Selama perjalanan aku mengobrol berbagai macam hal dengannya, mulai dari dosen, teman, dan bahkan pengalaman pribadinya, dia bercerita padaku kalau dia suka pada salah satu teman cewekku yang bernama Ana.
“beneran, lo suka ama si Ana? kalo bener, tar gue bilangin ke dia”.
“ja,,,jangan,, dia kenal aja kagak ama gue”.
“yah kenalan lah, susah amat”.
“nah itu dia masalahnya, gue gak pd”.
“gak pd kenapa?”.
“kan biasanya cewek cantik ngeliatnya fisik”.
“iya sih, si Ana emang nganggep fisik lebih penting, tapi gak semua cewek cakep ngeliat fisik contohnya gue”.
“boong lo”.
“iya, kalau gue mentingin fisik, pasti gue udah jadi rebutan cowok-cowok”.
“terus kenapa lo belum punya cowok ampe sekarang?”.
“cowok-cowok yang ngedeketin gue ada maunya, tau sendiri kan”.
“iya-iya, gue tau, oh ya nih belok kemana?”.
“tuh depan bentar lagi rumah gue”. Akhirnya kami sampai di rumahku yang baru karena rumah ortuku yang dulu dijual sebab ortuku pindah ke luar negeri dengan pembantuku juga, jadi aku dibelikan rumah yang lebih kecil dan sederhana daripada sebelumnya karena aku tinggal sendirian.
“rumah lo kayaknya nyaman banget ya”.
“iya dong, kan ni rumah gue rawat terus, yaudah yuk masuk”. Kemudian kami berdua turun dan masuk ke dalam rumahku yang kecil tapi sangat nyaman karena semua ruangan kupasangi ac kecuali kamar mandi tentunya.
“minum apa nih?”.
“udah, jangan repot-repot”.
“masa tamu gak disuguhin minuman, udah mau minum apa?”.
“mmm,,, soft drink aja deh”.
“yaudah, bentar ya”.
“oh ya, wc dimana gue mau cuci muka dulu”.
“tuh disana”. Kemudian aku ke dapur sementara Mario ke kamar mandi.
Aku juga sekalian ke kamarku untuk mengganti bajuku supaya aku tidak gerah, setelah berganti baju dengan kaos yang biasa kupakai di rumah yaitu kaos putih yang longgar dan celana hotpants, lalu aku pergi ke dapur dan menyiapkan minuman untuk Mario, setelah itu aku kembali ke ruang tamu dimana Mario sedang menonton tv yang ada di ruang tamu.
“buset, baju lo kok kayak gitu?”.
“sori banget nih, soalnya gue lebih nyaman pake kayak gini, gak apa-apa kan?”.
“gak apa-apa sih, cuman gue kaget aja”.
“yaudah, lo langsung ke kamar gue aja, soalnya komputernya ada di kamar gue”.
“gue boleh bawa minuman gue kan?”.
“ya bolehlah, udah sana, gue mau ngunci pintu dulu”. Setelah mengunci pintu, aku langsung menyusul Mario yang sudah lebih dulu menuju kamarku. Ternyata, dia sudah mulai mengerjakan tugas sendirian sambil meminum minuman yang tadi kubuatkan untuknya.
“nih gue bawain makanan, kacang ‘n kue-kue”.
“boleh gue makan kan?”.
“gak boleh, bolehnya diliatin aja. Ya boleh lah, ngapain gue capek-capek bawa kesini kalo gak boleh di makan”.
Sambil makan dan minum, dia mengerjakan tugas sementara aku berdiri dan sedikit membungkuk di sampingnya untuk melihat apa yang sedang dilakukannya. Karena aku membungkuk, payudaraku jadi berada tepat di samping kepalanya sehingga ketika dia menengok ke arahku, matanya langsung disuguhi pemandangan yang indah yaitu payudaraku yang montok dan kencang. Aku tidak tau kalau kadang-kadang dia mencuri-curi pandang ke arah dadaku karena aku terfokus pada komputer, setelah dia sudah mengeluh capek.
“Ras, gantian dong capek gue nih!”.
“iye, iye, sini gue gantiin, lo istirahat aja dulu”. Lalu aku duduk di depan komputer dan mulai mengerjakan sementara dia tidur-tiduran sambil melihat hpku, aku lupa belum menghapus video bokep yang direkam temanku ketika aku sedang disetubuhi 5 orang pekerja bangunan. Aku terlambat menyadari hal itu, tiba-tiba Mario mengunci pintu lalu mendekatiku yang masih serius mengerjakan tugas. Dia langsung meremas-remas payudaraku dari belakang kursi.
Aku langsung meronta-ronta dan bangun dari kursi secepat mungkin setelah aku berhasil melepaskan remasannya.
“mau ngapain lo Mac?”.
“sori, gue udah gak tahan ngeliat bodi lo”. Lalu dia mendorong tubuhku ke tembok, setelah badanku sudah merapat ke dinding, Mario memegangi kedua tanganku, aku meronta-meronta untuk melepaskan diri tapi aku tak berdaya melawan Mario karena badannya yang besar. Aku hanya bisa pasrah ketika dia mulai melumat bibir mungilku, dia mainkan lidahnya di dalam rongga mulutku, sebenarnya aku ingin bermain dengan lidahnya tapi aku geleng-gelengkan kepalaku agar terkesan mengadakan perlawanan, itu semua kulakukan supaya nafsu birahinya jadi semakin bertambah. Sambil melumat bibirku, dia juga meremas-remas payudaraku sehingga birahi semakin mengambil alih diriku yang membuatku tanpa sadar meremas-remas penisnya yang masih terbalut celana jeansnya. Dia melepaskan cumbuannya.
“Ras, lo emang bener-bener idaman para cowok”, aku hanya memberikan senyum manisku kepadanya.
Lalu dia mulai membuka kaosku dengan paksa karena dia sudah sangat bernafsu melihatku yang sudah pasrah padanya, setelah kaosku terbuka dia langsung membuka Bhku sehingga payudaraku yang berukuran 36B dan putih mulus terpampang jelas di hadapannya.
“anjrit, toket lo mantep banget”. Lalu dia merebahkan tubuhku ke ranjang, kemudian dia mulai menelusuri satu senti demi satu senti dari payudaraku dengan lidahnya, aku hanya bisa mendesah pelan ketika tekstur lidahnya yang kasar menyentuh kulit payudaraku yang halus. Setelah itu dia menyentil-nyentilkan lidahnya ke kedua putingku secara bergantian dan kadang-kadang dia memelintir serta memilin-milin kedua putingku. Ketika dia memasukkan putingku ke mulutnya dan mulai menghisapnya, kurasakan susuku langsung mengalir keluar dari putingku menuju ke mulut Mario.
“kok ada susunya sih?”.
“udah isep aja, mau gak?”.
“mau dong, susu lo manis banget gitu”. Lalu dia mulai menghisap kuat-kuat putingku seperti ingin menyedot habis susu yang keluar dari putingku.
Mario menghisap susu dari kedua putingku secara bergantian, setelah puas menyeruput habis susuku, dia berkomentar.
“parah, baru kali ini gue nyobain susu cewek udah gitu manis lagi”, aku tidak berkata apa-apa. Kemudian, dia mulai membuka hotpants serta cdku.
“mmhh, wangi apaan nih?”, setelah itu dia mengendus-endus vaginaku.
“ooh, taunya dari sini. Ras, memek lo wangi melati ya, harum banget memek lo”.
“kan gue rawat terus, jadinya udah pasti wangi dong”.
“kalo gini sih, gue jadi tambah nafsu aja ama lo”.
“udah, mau dicobain apa mau diendus-endus doang?”.
“hehe,,sori,,abisnya gue kagum banget ama bodi lo”. Kemudian, dia mulai menjilati bibir vaginaku yang masih tertutup rapat, dan juga Mario melebarkan bibir vaginaku dengan 2 jarinya. Karena aku mencukur habis rambut kemaluanku jadi daerah selangkanganku yang putih mulus tambah kelihatan bersih, aku mendesah pelan ketika lidah Mario menyapu bibir vaginaku. Akhirnya, dia menemukan klitorisku, tentu saja tanpa ragu-ragu lagi dia langsung menyentuh klitorisku dengan lidahnya sehingga aku mendesah dengan lebih kencang dari sebelumnya.
“aaaahh,,,,mmmmhhh!!”, desahku ketika dia menyentil-nyentilkan lidahnya ke daging kencilku yang sangat sensitif.
“buset, klitoris lo manis banget”.
“yaudah, terusin dong jangan berhenti”.
“ok,,”. Lalu dia meneruskan aktivitasnya yang tertunda, tapi kali ini dia memasukkan 2 jarinya ke dalam lubang vaginaku dan menggerakkan 2 jarinya itu keluar masuk vaginaku. Vaginaku terasa penuh karena diisi 2 jari Mario yang besar.
“ah, gue tambahin ah”.
“jaaannnggg….”, belum selesai aku berbicara Mario sudah menambahkan 1 jarinya lagi ke dalam vaginaku sehingga kini vaginaku benar-benar terasa penuh sesak daripada sebelumnya.
“awwhhh,,,mmmhhh”. Erangku, tapi sepertinya Mario tak menghiraukanku karena dia terus melakukan aktivitasnya. Dia mengobok-obok vaginaku sementara aku hanya bisa mengigit bibirku sendiri sambil menahan rasa nikmat yang tiada taranya.
Aku merasa sudah tidak tahan lagi hingga tubuhku mengejang dan aku menekuk tubuhku keatas.
“aaaahhhh,,,”, desahanku karena aku mengalami orgasme dan mengalirlah cairan dari vaginaku dengan deras langsung mengucur keluar membasahi 3 jari Mario yang sedang mengubek-ubek vaginaku. Setelah cairanku sudah terkuras habis, Mario berkomentar.
“wuih, cairan lo banyak juga, Ras”, aku hanya diam tidak membalas perkataannya.
“Ras, boleh kan gue nyobain cairan lo?”. Aku hanya mengangguk pelan karena aku sudah lemas. Mario menjilati cairanku yang ada di jarinya, dia menjilati jarinya sendiri sampai benar-benar bersih dari cairanku.
“waw, cairan lo manis kayak madu, jadi pengen lagi nih”. Lalu Mario melebarkan kakiku sehingga vaginaku yang banjir karena cairanku sendiri bisa terlihat jelasnya.
“mmhh,,, memek lo menggoda banget”. Mario langsung membenamkan wajahnya ke lembah kenikmatanku yang sudah banjir oleh cairanku.
“sslluuurrppp….slluurrpp”, bunyi yang muncul ketika Mario menyeruput cairan yang ada di daerah vaginaku.
Aku merapatkan kakiku sehingga kepala Mario terhimpit kedua pahaku, rupanya Mario tau kalau aku tidak mau dia berhenti sehingga dia lebih menaikkan frekuensi jilatannya dan ketika lidahnya mengenai klitorisku, aku merasa badanku dialiri listrik dan aku mendesah seperti orang yang sedang kecape’an. Mario sadar kalau lidahnya mengenai klitorisku sehingga kini dia lebih memfokuskan jilatannya ke klitorisku. Karena G-spotku ada di klitorisku, aku lebih cepat mencapai orgasme daripada sebelumnya, tentu saja semua cairan yang keluar dari vaginaku langsung diseruput habis oleh Mario. Setelah orgasmeku yang kedua itu, aku melepaskan himpitan pahaku kepada kepala Mario, tapi Mario masih tetap membenamkan wajahnya di vaginaku untuk membersihkan sisa-sisa cairanku yang masih ada di bibir luar vaginaku.
“udah dong, jangan dijilat terus, geli tau”, kataku seraya menepuk kepala Mario.
“he,,,he,,,he,,, sory, abisnya memek lo manis ‘n wangi banget, gue jadi gak mau pisah ama memek lo”.
“ah, ada-ada aja lo, tapi memek gue enak banget ya?”.
“beh, bukan enak lagi tapi mantab, btw lo juga bisa ngeluarin susu ya?”.
“ya, gimana susu gue?”.
“manis juga, lo pake apaan sih, kok bisa manis dua-duanya kayak gitu?”.
“mau tau?”.
“iya”.
“mau tau aja deh”.
“hmm,, dasar”.
“he,,he,, eh, gue aus nih, gue mau ambil minum, lo mau gak?”.
“sini, lo gue gendong”. Tubuh telanjangku diangkat, lalu aku melingkarkan kakiku ke pinggangnya dan melingkarkan tanganku ke lehernya, kami berdua seperti sedang bulan madu. Dia menciumi wajahku, dan bibirku selama berjalan ke dapur, aku membalasnya dengan melakukan hal yang sama.
“kita kayak suami istri aja ya”.
“kalo istri gue secantik lo, gue bakal ngentotin lo terus-terusan”.
“aahh, gue jadi malu, he,,he”. Setelah sampai di dapur, Mario menurunkanku dan aku mengambil minuman di kulkas dengan sedikit membungkukkan badanku sehingga pantat bulatku terekspos jelas ke Mario, dan dia langsung menepuk pantatku.
“eh, nakal ya, pake nepok pantat gue segala”.
“abisnya pantat lo ngegemesin sih”.
“maksud lo?”.
“ya, pantat lo tuh bulet ‘n kenceng banget”.
“iya dong, siapa dulu pemiliknya, Rasti”, balasku sambil menggoyang-goyangkan pantatku ke arahnya. Lalu, aku minum air jus yang kuambil dari kulkas.
“loh, lo gak minum?”, tanyaku sambil menaruh gelas yang sudah kosong.
“ngapain minum kayak gituan, kan ada susu lo”. Dengan semangat 45, dia langsung meremas-remas payudara kananku sedangkan payudara kiriku disedot Mario sampai pipinya kempot. Susuku yang hangat dan manis langsung mengalir keluar menuju mulut Mario.
“mmhh,,manis banget”.
“udah dong, lo kira gak geli apa”.
“he,,he,,sori deh”.
“gue cuma bercanda kok, sedot aja sepuas lo”.
“asik!!”. Lalu dia menyedot susu dari payudara kanan dan kiriku secara bergantian selama kurang lebih 5 menit, lalu dia menyudahi sedotannya.
“udah belum minum susunya?”.
“udah puas gue minum susu lo, eh Ras, gantian dong, lo yang isep punya gue”.
“ah ogah ah”.
“ayo dong, pliis..”.
“emang untungnya apa gue isep punya lo?”.
“kalo lo isep punya gue, lo gue beliin apaan aja yang lo mau deh”.
“bener?”.
“bener, ya,,ya mau ya”.
“he,,he,, gue cuma becanda kok, gue bukan cewek matre kalee”.
“jadi lo mau ngisep ****** gue?”. Aku membalasnya dengan tersenyum dan juga mengangguk. Aku berjongkok untuk membuka celananya, sementara Mario membuka bajunya, setelah celana jeansnya sudah kubuka, aku langsung membuka celana dalamnya dan penis Mario langsung menyembul keluar untuk menyapaku. Ternyata, penis Mario tidak begitu panjang, tapi penisnya gemuk seperti pemiliknya, penis Mario mempunyai panjang 14 cm dan berdiameter 4 cm. Tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung memasukkan penis Mario ke dalam mulutku, aku langsung jilati kepala penisnya yang membuat pemiliknya menggelinjang, mungkin karena terasa nikmat sekaligus ngilu. Tiba-tiba Mario menekan penisnya ke dalam mulutku, untungnya penisnya tidak terlalu panjang sehingga aku hanya sedikit tersedak, kini Mario memaju mundurkan penisnya ke dalam mulutku seperti sedang menggenjot vaginaku.
Aku hanya bisa diam menerima sodokan-sodokan Mario terhadap mulutku, tapi lama kelamaan aku merasa tidak enak juga karena penisnya yang gemuk memenuhi mulutku, sementara mulutku sedang digenjot olehnya tanganku memijati buah zakarnya dengan perlahan. Setelah beberapa menit, dia mengerjai mulutku, Mario berhenti memompa mulutku sehingga kini aku yang bekerja, aku emut kepala penisnya secara perlahan sambil tanganku terus memijati buah zakarnya. Lalu aku telusuri batang penisnya dengan lidahku dari pangkal ke kepalanya dan sebaliknya, kemudian aku menyentil-nyentil lubang kencingnya dengan lidahku, setelah puas bermain dengan penisnya, aku memainkan mulutku di buah zakarnya sampai-sampai daerah selangkangan Mario basah semua karena jilatan-jilatanku. Tapi ketika aku sedang asik-asiknya menjilati lolipop daging milik Mario, lolipop itu berdenyut-denyut yang menandakan sebentar lagi akan orgasme, dengan terpaksa aku menghentikan aktivitasku.
“yah, masa udah mau ngencrot sih?”.
“abisnya lo jago banget sih ngisepnya”.
“yaudah, kita cooling down dulu ya”.
“ok, tapi ke kamar lo yuk, capek nih berdiri”.
“iya, iya, yuk”. Kemudian, aku dan Mario pergi menuju kamarku dalam keadaan bugil, tentu saja dia menciumiku selama berjalan ke kamarku. Setelah sampai di kamar, Mario menyuruhku untuk tidur terlentang di ranjang, tentu saja aku mengikutinya karena aku juga tidak tahan lagi ingin disuntik. Mario naik ke atas ranjang dan menyiapkan penisnya di depan vaginaku, lalu Mario melebarkan kakiku sehingga vaginaku yang bersih terlihat jelas. Dia mengelus-eluskan penisnya ke atas dan ke bawah menelusuri bibir luar vaginaku sehingga birahiku menjadi naik kembali, lalu Mario menaruh kepala penisnya di pintu masuk lubang surga dunia milikku. Kemudian dengan perlahan dia memasukkan penis gemuknya ke dalam vaginaku yang sudah lapar akan penis, tanpa usaha yang keras, penis Mario dengan mudah amblas ditelan vaginaku karena penisnya tidak terlalu besar dan juga karena vaginaku sudah dilumasi oleh cairanku sendiri.
Aku melingkarkan kakiku ke pinggangnya, sementara dia belum mulai memompa vaginaku karena dia ingin merasakan betapa hangat dan sempitnya vaginaku, selain itu dia juga ingin menciumku tapi tidak bisa karena tertahan perutnya yang gemuk. Akhirnya dia mulai memompa penisnya keluar masuk vaginaku dengan irama yang perlahan untuk membiarkan aku terbiasa dengan penis gemuknya yang membuat vaginaku terasa penuh meskipun tidak terlalu besar. Sementara Mario menggerakkan Mr. P nya keluar masuk vaginaku, Mario juga meremas-remas kedua buah payudaraku dengan kedua tangannya sehingga susuku memuncrat keluar dari putingku. Sodokan demi sodokan menerjang vaginaku, rupanya Mario belum terlalu lihai dalam hal mengaduk-adukkan tongkatnya di dalam vagina seorang wanita karena dia memompa vaginaku tanpa irama yang jelas, kadang cepat kadang lambat. Tapi meskipun pompaan Mario tidak berirama, itu sudah membuatku menggelinjang keenakan.
Tak terasa sudah 20 menit Mario mengaduk-aduk vaginaku dengan batangnya, kurasakan tubuhku sudah tidak tahan lagi menikmati kenikmatan yang bersumber dari vaginaku dan menjalar di sekujur tubuhku seperti aliran listrik. Dan akhirnya aku benar-benar tidak tahan lagi, tapi aku juga merasakan penis Mario mulai berdenyut-denyut di dalam vaginaku sehingga aku harus menahan orgasmeku agar kami berdua mencapai klimaks secara bersamaan. Dengan susah payah aku menahan klimaksku sampai 5 menit ke depan.
“aahh,,,Ras,,,guuee,,,kkeeluuarr!!!”.
“gguuee,,jjugga”. Akhirnya aku mencapai orgasme dan mengeluarkan cairan dengan deras dari dalam vaginaku, bersamaan dengan itu Mario juga menyemburkan spermanya ke dalam vaginaku. Vaginaku benar-benar terasa hangat karena cairanku dan sperma Mario bercampur aduk di vaginaku, aku merasakan Mario menyemprotkan sperma ke dalam vaginaku sebanyak 5 kali semburan. Setelah penis Mario sudah memuntahkan semua lahar putihnya, kami beristirahat dengan nafas tersengal-sengal, tentu saja Mario sudah mencabut penisnya keluar dari vaginaku.
Aku merasakan hangatnya sperma dan cairanku mengalir keluar dari vaginaku menuju ke kasurku. Aku menolehkan muka untuk menatap mata Mario, begitu juga dengan Mario menatap mataku dengan penuh arti.
“Ras, maafin gue ya”.
“kenapa?”.
“gue ngencrot di dalam memek lo”.
“ya ilah, gitu doang, nyantai aja lagi”.
“bener, gak papa?”.
“bener kok, eh btw, lo udah berapa kali ngesex ama cewek?”.
“baru kali ini doang kok”.
“yang bener?”.
“bener, emang kenapa?”.
“kok lo tau sih cara foreplay?”.
“kan gue cowok jadi gue tau caranya lewat film-film bokep”.
“oohh,,gitu”.
“nah, lo sendiri dari umur berapa udah gak virgin?”.
“jangan ah, itu rahasia gue”.
“oh, sori-sori”.
“gak apa-apa, eh iya, tugas kita belum selesai tuh, gara-gara lo pake nafsu segala”.
“sori banget deh, tadinya gue juga mau serius ngerjain tugas, tapi ngeliat lo pake hotpants, gue jadi nafsu”.
“yaudah, sana kerjain, gue mau mandi dulu biar wangi lagi”.
“tapi ntar gue boleh ******* ama lo lagi kan?”.
“nggg…tau deh, liat nanti ya”.
Aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku yang telah menjadi tempat pelampiasan nafsu Mario sementara Mario mengerjakan tugas. Setelah tubuhku wangi kembali, aku kembali ke Mario dengan telanjang.
“Mac, gue telanjang aja, gak apa-apa kan? Kan lo udah ngeliat body gue ini”.
“iya, gue malah seneng kalo lo gak pake baju”.
“huu, dasar lo, udah sana lo kerjain tugas, gue mau nonton tv dulu”.
“eh, tapi ntar gantian ye, masa gue ngerjain sendiri”.
“ok, ntar bilang aja kalau lo udah capek”. 15 menit kemudian, Mario sudah kelihatan capek.
“Ras, gantian dong, gue capek nih”.
“ok, lo istirahat dulu sana”. Aku dan Mario terus bergantian mengerjakan tugas kami sampai jam menunjukkan 7.30 malam.
“Ras, lo tinggal disini sendirian?”.
“iya, emang kenapa?”.
“apa lo gak takut?”.
“takut apa? Maling? Hantu? Gak takut gue”.
“tapi apa lo gak kesepian?”.
“iya sih, kadang-kadang sepi juga”.
“nah, kalo gitu, boleh gak gue nemenin lo sampe 3 hari?”.
“hah, kos-kosan lo gimana?”.
“gampang deh pokoknya, boleh ya?”.
“kok maksa banget, pasti ada maksud tertentu”.
“nggak, biar tugasnya bisa selesai”.
“apa bener, cuma ngerjain tugas, ngomong aja yang jujur ama gue”.
“hehe,,, gue juga pengen ngentotin lo sih, abisnya gue ketagihan ******* ama lo”.
“hmm, gimana ya?”.
“ayo dong Ras, pleaasee”.
“iya, iya, lo boleh nginep”.
“gue juga boleh belajar ******* ama lo gak?”.
“iya, iya, gampang, udah sana pulang ambil baju”.
“ok, Tuan Putri yang cantik secantik bidadari”.
“aah, jangan gitu dong, gue jadi malu nih,, hehe”.
“yaudah gue pulang dulu ya”. Aku mengantarnya sampai ke pintu rumahku tanpa ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhku, ketika kami berdua berada di pintu rumahku, Mario tiba-tiba merunduk dan menghisap susuku dari payudara kananku sementara tangannya meremas-remas payudara kiri.
“Maac,,jangan,,,ntar,,keetauaan oraang”.
“sori, sori, abisnya gue gemes banget ngeliat toket lo, montok banget sih”.
“huu, untung gak ada orang, jadi kita gak ketauan, udah sana”.
“yaudah, ntar gue balik lagi ya”. Hanya dalam waktu 30 menit, Mario sudah ada di depan pintu rumahku dan memencet bel, aku membukakan pintu dalam keadaan yang masih telanjang karena di rumah aku lebih suka tidak memakai apa-apa.
“Mac, cepet banget lo udah nyampe sini lagi”.
“soalnya gue udah gak sabar pengen ******* lagi ama lo”.
“huu,,dasar”. Tiba-tiba Mario menciumi leherku dan bibirku serta meremas-remas pantatku.
“Mac, sabar dong, tutup dulu pintunya, abis itu baru lo boleh ngapain aja”.
“ok, oh ya, kebetulan gue bawa viagra nih”.
“viagra? Lo emang niat bawa?”.
“iya, supaya bisa ngentotin lo terus-terusan”.
“yaudah, kalau gitu selama 3 hari lo bebas ngentotin gue sesuka lo asalkan lo yang ngerjain tugas”.
“ok, deal ya?”.
“deal”.
“ok, mulai yuk”. Lalu Mario meminum viagra dan langsung menggarap tubuhku semalam suntuk, dan jika efek viagra sudah habis, dia meminum viagra sehingga Mario bisa mengobok-obok vaginaku dengan penisnya semalaman.
2 hari kulalui bersama Big Mac di rumahku, kami satu kelompok dalam mengerjakan tugas final. Tugas yang kuanggap sulit itu bisa dikerjakan Big Mac dalam 2 hari saja dengan imbalan yaitu aku harus melayaninya kapanpun dia mau, tapi aku tidak keberatan melayaninya kapanpun dia mau karena dia sangat lembut kepadaku. Selama 2 hari dia menginap di rumahku aku mengajarinya berbagai macam posisi saat bersetubuh supaya permainan kami lebih bervariasi dan tidak membosankan. Jam 10 pagi di hari ketiga, setelah puas menyetubuhiku, Mario mengajakku ke kampus untuk menyerahkan tugas dan makalah laporannya.
“Ras, ayo, ke kampus nyerahin tugas”.
“ayo”.
“eh,, ras, ntar dikampus gue boleh gandeng tangan lo gak?”.
“emang kenapa harus gandengan tangan? Emangnya gue truk gandeng”.
“jangan marah dong, gue kan cuma nanya kalo lo gak mau juga gak apa-apa”.
“gue gak marah kalee, emangnya kenapa sih?”.
“temen-temen gue ngejek gue gak bakal dapet pacar..”.
“oh, gue ngerti, ntar di kampus gue pura-pura jadi pacar lo, ya kan?”.
“nah, lo tau, gimana lo mau gak?”.
“iya, gampang deh”.
“tapi misalnya gue nyium bibir lo di depan temen gue boleh gak?”.
“mmhh,, gimana ya?”.
“kalo lo gak mau juga gak apa-apa”.
“boleh kok”.
“yang bener lo? Lo gak malu? Lo kan celer di kampus”.
“gue gak malu, biarin aja apa kata orang, btw celer apaan?”.
“cewek populer”.
“ooh, ampir gue salah denger”.
“pasti dengernya peler, ya kan?”.
“hehehe…”. Lalu kami pergi ke kampus, setelah menyerahkan tugas ke dosen, sang dosen memberi nilai A karena hasil kerja kami dibilang bagus oleh dosen itu. Aku sangat senang karena aku tidak mengerjakan apa-apa tapi dapat nilai A ( ), setelah menyerahkan tugas ke dosen berarti aku bisa santai selama 2 bulan ke depan. Mario mengajakku ke teman-temannya yang sedang berada di kantin.
“guyz, nih kenalin cewek gue”.
“Rasti, cewek lo? Mimpi aja lo, haha”, teman-teman Mario mengejeknya.
“dibilangin, gak percaya, tanya aja langsung!!”.
“pasti si Big Mac bo’ong, iya kan Ras?”.
“enggak, gue emang udah jadian ama si Big Mac”.
“tuh kan, gue bilang apa”.
“ah, masih gak percaya, jangan-jangan lo ngancem Rasti y kan?”.
“beneran kok, yaudah, sekarang gue cium Rasti deh, kalo dia nolak berarti gue bo’ong”. Lalu Mario memelukku dan kemudian melumat bibirku, dia mainkan lidahnya di dalam rongga mulutku, aku menutup mataku dan membalas memainkan lidahku sehingga lidah kami saling membelit. Lumayan lama juga kami berciuman di depan teman-teman Mario, mungkin sekitar 45 detik, lalu kami menyudahi ciuman kami.
“tuh kan, Rasti gak nolak”.
“wah,, enak banget lo ciuman ama Rasti, gue jadi pengen nih”.
“iya, gue juga”.
“sama”.
“enak aja, emangnya bibir gue gratisan”.
“bercanda doang Ras”. Lalu kami tertawa bersama-sama.
“udah ya guyz, gue ama Mario mau jalan dulu”.
“ati-ati Ras, tar kalo lo berdua makan, pasti lo ketempuan”.
“iye, kan si Mac makannye banyak”.
“dasar lo pade, ngejek gue mulu, udah ye, gue ama Rasti mau jalan dulu”. Lalu kami berdua pergi meninggalkan teman-teman Mario dan menuju tempat parkir.
“gimana akting gue bagus kan?”.
“bagus, apalagi ciuman lo”.
“hm, dasar lo, eh kita mau kemana nih?”.
“kemana ya, enaknya, lo maunya kemana?”.
“ke mall yang ada bioskopnya yuk”.
“ok”. Lalu kami berdua naik motor dan pergi dari tempat parkir, aku sengaja memeluk Mario karena selain aku takut, juga supaya dadaku tertekan ke punggungnya. Di tengah perjalanan, kami berdua mengobrol
“Ras, gue boleh jadi pacar lo gak?”.
“maksud lo, jadi pacar beneran?”.
“iya, gimana boleh gak?”.
“tapi, bukannya lo suka ama Ana?”.
“iya, tapi kayaknya gak mungkin, lagian kan gue deket ama lo udah gitu lo lebih cantik dari Ana, jadi mendingan gue nembak lo, mumpung lagi ada kesempatan”.
“tapi ngapain kita pacaran, kan lo udah pernah ngeliat badan gue”.
“maksud lo?”.
“bukannya tujuan cowok macarin cewek biar bisa ngesex ama tuh cewek, ya kan?”.
“ya sih, tapi kan gue pengen punya pacar beneran”.
“bener mau jadi pacar gue?”.
“beneran, suer deh”.
“yaudah, kita pacaran”.
“asik”.
“eh, ati-ati, ntar nabrak”.
“sori, btw gue boleh manggil lo sayang kan?”.
“terserah kamu”.
“ok, sayangku”. Setelah sampai di mall, kami makan makanan cepat saji.
“eit,, jangan makan yang itu”.
“kenapa?”.
“itu banyak minyak, tar kamu tambah gendut, mending kamu makan salad”.
“tapi,, kan enak”.
“mau kurus gak?”.
“iya deh iya”. Setelah makan, kami langsung bergegas karena film yang akan kami tonton sudah mau dimulai. Film yang kami tonton film horor, karena aku tidak terlalu takut dengan film horor jadi aku menyaksikan film dengan biasa-biasa saja. Anehnya, Mario malah menutup mata seperti orang ketakutan.
“kamu kenapa,, ketakutan ya?”.
“nnnggakk kok!!”.
“alah, jangan boong, muka kamu udah pucet gitu,,haha”.
“iya deh, aku ngaku”.
“badan doang gede, nyali ciut,”.
“jangan ngatain aku mulu dong”.
“maaf deh,,, ok?”.
“iya, Rastiku sayang”.
“sssttt,,, jangan berisik dong”, kata orang yang duduk di sebelahku.
“maaf,,maaf”. Lalu aku menyaksikan film horor lagi.
Setelah filmnya selesai, aku dan Mario keluar dari studio. Mario kelihatan pucat dan mengeluarkan keringat dingin.
“Ayang, kamu takut banget ya?”.
“he,,eh”.
“aduh kasihan ayangku,, yaudah kita jalan-jalan dulu supaya lupa”. Selama kami berjalan-jalan, orang-orang di mall melihat kami dengan tatapan aneh. Tak sengaja aku mendengar percakapan dua orang ibu ketika aku dan Mario melintas di depan mereka.
“kok cowok gendut kayak gitu bisa dapet cewek cantik ya?”.
“pake pelet kali ya”, lalu kedua ibu itu tertawa. Kelihatannya Mario tak menghiraukan perkataan kedua ibu tadi.
“sayang, kok pada ngeliatin kita sih?”.
“gak tau deh, udah biarin aja”.
“ngomong-ngomong aku pengen ke wc nih”.
“yaudah, kita ke wc dulu abis itu kita pulang ya”.
“ok deh, cewekku yang cantik ‘n seksi”.
“apaan sih, udah ah, yok ke wc”. Tak lama kemudian, kami sampai di depan toilet.
“udah sana, aku juga mau ke toilet”.
“maunya bareng-bareng”.
“yee,, tar kalo aku masuk ke wc cowok, aku diapa-apain lagi”.
“yaudah kalo gitu, aku ke wc cewek”.
“kalo kamu mau digebukin sih silakan”.
“udah ah, jangan bcanda”. Lalu aku masuk ke wc cewek, dan Mario masuk ke wc cowok, tidak lama kemudian aku selesai dan keluar kamar mandi, kulihat Mario sudah menungguku.
“ayang, kamu lama banget sih?”.
“namanya juga cewek,, lagian kan buat kamu juga”.
“hehe,,”.
“pake ketawa lagi, btw aku udah capek nih, pulang yuk”.
“yuk,,”. Akhirnya kami pun pulang ke rumah, setelah sampai di rumah aku langsung menuju kamarku dan merebahkan tubuhku di ranjangku yang empuk sementara Mario sedang memasukkan motor ke garasi. Tak terasa aku mulai mengantuk dan mataku juga sudah mulai menutup dengan perlahan, tapi aku terbangun lagi karena aku merasakan payudaraku sedang diremas-remas.
“sayang, jangan dong, aku mau tidur nih”.
“yah, aku udah gak tahan nih”.
“please yank, aku capek banget, mending kita tidur dulu, ntar terserah kamu deh, mau sampe pagi juga aku ladenin deh, tapi biarin aku tidur dulu ya”.
“bener ya, awas kalo bo’ong”.
“iya, iya, udah sini tidur di sebelahku”.
“kamu gak ganti baju dulu?”.
“oh ya, tapi aku telanjang aja ah, males ganti baju”.
“ntar aku nafsu, gimana?”.
“tahan dong, masa gak bisa sih”.
“cowok mana yang bisa nahan nafsu kalo ngeliat body kamu. Kamu pake baju aja udah bikin cowok nafsu, apalagi kalo telanjang”.
“yaudah, aku kelonin kamu supaya kamu tidur duluan”.
“gue boleh sambil nyusu kan?”.
“dasar kamu,,, yaudah boleh sambil nyusu, tapi jangan ngerangsang aku ya”.
“ok, ayangku”. Lalu aku mengeloni Mario dengan mengelus-elus kepalanya sementara Mario menghisap kuat-kuat susu yang keluar dari putingku. Akhirnya, Mario tertidur lalu melepaskan kulumannya terhadap putingku dan mataku pun mulai menutup hingga akhirnya aku berpetualang di dunia mimpi. Aku terbangun ketika merasakan daerah selangkanganku seperti sedang dijilat oleh seseorang, spontan kubuka mataku lebar-lebar dan melihat ke daerah selangkanganku, rupanya Mario sudah membenamkan wajahnya diantara kedua pahaku dan menjilati vaginaku.
“aaahh,,,Mario!!”.
“sori ayang, aku gak tahan ngeliat body kamu”.
“yaudah, lanjutin aja”. Kemudian Mario melanjutkan aktivitasnya yaitu menjilati vaginaku. Desahanku semakin kencang ketika lidahnya mengenai klitorisku, karena Mario tau kalau lidahnya mengenai klitorisku, dia jadi lebih memfokuskan jilatan-jilatannya kepada daging kecilku yang sangat sensitif itu. Sapuan lidah Mario membawaku ke puncak kenikmatan sehingga cairan vaginaku mengalir keluar dengan deras yang langsung diseruput habis oleh Mario.
“memek kamu emang manis banget rasanya”.
“manis sih manis tapi bilang-bilang dong kalo ngejilat memek orang”.
“maaf sayang, jangan marah dong”.
“hehe,,kena kamu, aku cuma becanda kok, aku gak marah”.
“dasar kamu”, balas Mario sambil mencubit putingku
“yank, aku seneng deh nginep di rumah kamu”.
“iya, kamu seneng, aku repot”.
“repot kenapa?”.
“tiap hari kan, kamu minta jatah mulu sampe 5 jam lagi”.
“hehe,, maaf deh, lagian body kamu seksi banget sih bikin aku horny terus”.
“oh ya, coba kamu nimbang berat badan sana”.
Lalu Mario menimbang berat badannya dengan timbangan berat di kamarku.
“wah, turun 2 kilo, tadinya kan gue 98 sekarang jadi 96, asik”.
“gimana gak turun, selama kamu nginep disini kan jarang makan, paling-paling minum susuku udah gitu kan kita olahraga di ranjang terus jadi kamu keringetan pasti itu semua bikin berat kamu turun”.
“nah, aku ada ide, kan kita libur 2 bulan, gimana kalo aku tinggal disini terus kamu ngebantu aku diet”.
“yee,, enak aja, apa untungnya, adanya ntar aku malah repot”.
“yah, please, masa gak mau bantu pacar sendiri sih?”.
“yaudah, tapi 1 syarat kamu harus nurutin semua aturan diet yang kubuat ya, gimana?”.
“ok”.
“yaudah kalo gitu, tunggu bentar ya”.
“mau kemana?”.
“udah, tunggu dulu sini”. Aku pergi ke dapur dan membuat minuman, lalu kembali ke kamar.
“nih minum”.
“apaan neh?”.
“minum aja dulu, ntar baru komentar”. Kemudian, Mario meminum minuman yang tadi kubuat.
“yang, minuman apaan nih? Kok aku jadi ngerasa kenyang kayak gini”.
“di minuman itu udah aku campur obat aku yang bikin orang jadi gak laper”.
“keren banget obat kamu”.
“lumayan kan, bisa ngebantu kamu diet”.
“iya, terus dietnya gimana?”.
“gini nih, kan kalau kita keringetan, berat kita bisa turun”.
“terus?”.
“nah, kamu harus olahraga terus supaya keringatan”.
“kapan mulai?”.
“sekarang”.
“hah!? sekarang, gimana caranya?”.
“yah, ayang masa gak ngerti”, balasku sambil mengelus-elus vaginaku.
“oh, olahraga ranjang, wah kalo dietnya kayak gini sih, aku jadi semangat”. Lalu aku mendorong Mario sehingga tubuh gemuknya jatuh ke ranjang, tapi kakinya masih menjuntai ke bawah dan ‘onderdil’nya berada di tepi ranjang. Aku jongkok dan menjilati buah zakarnya sampai ke kepala penisnya, lalu kujilati sebaliknya yaitu dari kepala penis sampai ke buah zakarnya sehingga Mario mendesah karena perbuatanku terhadap penisnya itu. Kujilati setiap milimeter penis Mario sehingga daerah selangkangan Mario benar-benar basah karena air liurku. Kumainkan lidahku ke atas dan ke bawah di batang penis Mario, selain itu aku juga menyentil-nyentilkan lidahku ke lubang kencing Mario, serta kuemuti kepala penisnya berkali-kali.
Dan ketika aku melahap buah zakar Mario, aku mengocok penisnya dengan tanganku. Lalu kurasakan penisnya berdenyut-denyut yang menandakan dia akan memuntahkan lahar putihnya, dengan sengaja aku menghentikan permainan mulutku, Mario langsung protes.
“lho, sayang, kok berhenti? tanggung nih, dikit lagi”.
“kamu udah minum obat kuat belum?”.
“oh ya lupa, aku minum dulu ya”.
“untung aku ingetin, coba kalau nggak, masa aku nungguin kamu ngaceng lagi”. Kemudian, Mario meminum obat kuatnya, sementara aku naik ke ranjang.
“oh ya sayang, kamu gak takut hamil? kan aku entotin terus”.
“emang kamu gak mau jadi suami aku?”.
“mau sih, tapi sekarang aku belum siap”.
“he,,,he,, tenang aja, aku gak bakal hamil soalnya rahimku udah diangkat gara-gara waktu itu aku tabrakan”.
“oh, gitu, jadi kamu gak bisa hamil dong?”.
“ah, udah ah, jangan ngomongin itu, mendingan kita mulai aja, kasian tuh ****** kamu kedinginan”.
“bisa aja kamu, yaudah mulai yuk program dietnya”. Dan berlangsunglah malam seperti malam sebelumnya yaitu aku melayani Mario sampai jam 3 pagi sehingga kami kelelahan dan tertidur. Aku bangun keesokan pagi dengan vagina dan mulut yang belepotan sperma dan Mario masih memelukku.
“yang, bangun dong, udah pagi”.
“hooaahh,, emang sekarang jam berapa?”.
“jam 9 pagi”.
“aku masih ngantuk, lagian masih pagi”.
“beneran nih, gak mau mandi bareng ama aku?”.
“mandi bareng?! mau dong, baru kali ini kamu ngajak aku mandi bareng”.
“makanya, cepetan bangun, ntar kamu boleh mandiin aku deh”.
“wah, asik”.
“hmm,, dasar, giliran mandi bareng aja cepet”.
“ayo cepet”.
“yaudah, santai aja, kamu duluan, ntar aku nyusul”. Kemudian Mario masuk ke kamar mandi, sementara aku membereskan ranjang yang berantakan akibat persetubuhanku dengan Mario semalaman tadi. Lalu aku menyusul Mario ke kamar mandi, kulihat Mario sudah menyiapkan bak berisi air dingin.
“yah, kok air dingin?”.
“biar seger”.
“yaudah deh, gak apa-apa, yuk mulai mandi”.
“yuk”.
“eit, tapi biar aku yang mandiin kamu duluan baru ntar kamu boleh mandiin aku, ok?”.
“ok, sayangku”. Tanpa disuruh, Mario memelukku erat-erat dan melumat bibir mungilku, aku membalasnya dengan memainkan lidahku di rongga mulutnya. Setelah hampir 25 detik kami saling mencumbu, akhirnya Mario melepaskanku juga.
“main cipok aja”.
“sori, abisnya bibir kamu menggoda banget”.
“mau dimandiin gak?”.
“mau dong”.
“yaudah, makanya jangan cipok tiba-tiba”.
“ok, ok”. Aku mengguyur tubuh Mario dengan air dingin, lalu aku mengambil sabun dan mulai menggosokkan sabun ke tubuh Mario yang gendut. Aku menyabuninya mulai dari leher, dada, lengan, perut, punggung, pantat, paha, betis, sampai ke kakinya. Aku sengaja meninggalkan bagian tubuh yang paling kusuka yaitu penis untuk kusabuni, setelah semua bagian tubuh Mario sudah kusabuni, barulah aku menggerakkan tanganku ke penis Mario.
“supaya bener-bener bersih, kamu bersihin pake mulut kamu dong”.
“iya, iya, bawel”.
Aku memegang batang penisnya yang sudah tegang dan keras itu dengan tangan kananku dan agak mengangkatnya ke atas sehingga aku bisa menjilati pangkal penisnya serta buah zakarnya. Setelah puas merasakan rasa pangkal penis dan 2 telur Mario, aku membiarkan penis Mario jatuh menggelantung lagi, tapi aku langsung menangkapnya dengan mulutku. Langsung kujilati batang penis Mario dari atas ke bawah, dan sebaliknya seperti sedang menjilat es krim yang membuat pemiliknya mendesah keenakan. Kumasukkan penis itu ke dalam mulutku, hanya 3/4 nya saja yang bisa masuk ke mulutku, setelah tidak bisa masuk lagi, aku mulai memaju mundurkan kepalaku, tapi lama kelamaan Mario memegang kepalaku dan menggerakkan pinggulnya maju mundur sehingga aku tersedak oleh penisnya, tapi aku bisa menahannya. Selama 5 menit dia terus memompa penisnya di mulutku sampai akhirnya dia menyemburkan lahar putihnya di mulutku, aku telan semua spermanya dan kujilati spermanya yang masih tersisa di lubang kencingnya.
“nah, sekarang, udah bersih, aku sabunin ya”.
“mmhhh,,,”, desahannya sambil menggeliat-geliat.
“kenapa? ngilu ya?”.
“iya, ngilu banget”.
“bentar lagi selesai kok”, balasku sambil terus menyabuni ‘onderdil’ Mario.
“udah selesai”.
“berarti giliran aku mandiin kamu dong”.
“iya, tapi yang bener ya mandiin aku”.
“sip,sip”. Mario menyiramku dengan air dingin sehingga aku merasa segar, lalu Mario mengambil sabun dari tanganku dan mulai menyabuniku. Ketika sampai di payudaraku, Mario menggosokkan sabun ke tangannya kemudian menaruh sabun itu. Lalu Mario mulai meremas-remas payudaraku dengan perlahan, dan karena gerakan meremas itu susuku langsung memancar keluar dari putingku. Selain meremas-remas putingku, Mario juga memijit putingku yang sudah mengeras dengan jempolnya dan juga kadang-kadang dia menarik-narik serta memelintir kedua putingku yang membuatku mendesah karena terasa nikmat.
“mmhhh,,teruss,,”, desahku pelan menikmati setiap gerakan tangan Mario yang sedang bermain di kedua buah payudaraku.
Setelah puas memainkan kedua buah payudaraku, Mario mengambil sabun dan mulai menyabuni tubuhku lagi. Setelah payudara, punggung dan pantatku sudah disabuni oleh Mario, dia jongkok sehingga wajahnya tepat berada di depan vaginaku.
“memek kamu emang bagus banget”.
“iya dong, siapa dulu”.
“eh, kamu udah basah ya, belum aku apa-apain udah basah”.
“tadi ngeremes-remes toket aku apa?”.
“hehe,, yaudah karena kamu udah basah, mendingan sekalian aja aku bikin kamu orgasme”. Mario menggosok-gosokkan sabun ke bibir vaginaku yang masih tertutup rapat, spontan aku menggelinjang kegelian, setelah daerah selangkanganku sudah licin karena sabun, Mario membuka bibir vaginaku dengan 2 jarinya. Lalu dia memasukkan 2 jarinya ke dalam vaginaku sehingga aku mengerang ketika 2 jari Mario yang bersabun memasuki vaginaku dengan perlahan. Dia mengorek-orek vaginaku karena dia sedang membersihkan bagian dalam vaginaku dengan 2 jarinya yang bersabun itu sampai tubuhku menggelinjang keenakan.
Setelah 5 menit, tubuhku mengejang hebat dan terasa dialiri listrik yang menandakan aku orgasme, cairanku langsung mengucur keluar dari vaginaku dan membasahi 2 jari Mario yang sedang bersarang di dalam vaginaku.
“nah, sekarang memek kamu udah bersih”.
“udah kan mandiin aku, yuk keluar yuk”.
“ngapain sih buru-buru?”.
“kita kan mau ke fitness center”.
“oh iya, yuk”. Lalu kami keluar kamar mandi dan berpakaian untuk pergi ke tempat fitness yang biasa kukunjungi karena aku juga ingin berolahraga. Lalu akhirnya kami sampai di tempat fitness yang kami tuju, setelah memarkirkan mobilnya yang baru diambil tadi pagi, aku dan Mario masuk ke dalam.
“eh Rasti”, sapa resepsionis yang menjadi temanku.
“eh, Vina, gimana kabar lo?”.
“baik-baik aja, eh tapi itu siapa, saudara lo?”.
“bentar ya, Mario kamu tunggu disana aja dulu”, kataku ke Mario sambil menunjuk bangku.
“itu siapa, Ras?”.
“cowok gue”.
“ah, sumpeh lo,, lo kan cantik tapi cowok lo kok kayak gitu”.
“cuma sementara doang kok, oh ya vin, gue ama cowok gue mau latihan dulu ya”.
“ok”.
Karena aku sudah jadi member, aku bisa langsung latihan, pakaian yang kupakai sangat ketat sehingga payudaraku seperti ingin mencuat keluar, sedangkan bongkahan pantatku yang kenyal tercetak jelas di celana sportku. Lalu Mario keluar dari kamar ganti pria, aku hampir tertawa melihat tubuhnya yang gemuk itu, tapi aku dapat menahan tawaku.
“sayang, ayo latihan, aku yang jadi instruktur kamu”.
“tapi, jangan lama-lama ya”.
“kalau kamu ikutin semua perintahku, akan aku kasih hadiah”.
“wah asik”, lalu Mario mulai latihan fitness sesuai arahanku. Setelah 2 jam berlatih, aku menyuruh Mario untuk berhenti.
“udah, Mario, kamu udah keringetan”.
“makasih ya”.
“kebetulan, disini ada spa,, kita mandi spa sekalian yuk”.
“tapi aku capek lagian aku laper”.
“ntar di tempat spa, aku temenin deh”.
“bener? emang boleh?”.
“tenang aja deh, pokoknya, udah yuk ke spa”, lalu kami pergi ke spa bersama-sama.
“Mario sayang kamu masuk duluan, ntar aku nyusul”.
Aku bilang ke Vina kalau ruang spa 56 jangan diganggu.
“kenapa Ras, emangnya?”.
“soalnya, disitu ada gue ama cowok gue”.
“lo mau ngapain?”.
“ada deh”.
“yaudah, terserah lo aja”. Setelah berkompromi dengan Vina, aku langsung menuju Mario yang sudah berada di dalam ruang spa, aku masuk ke ruang spa dengan telanjang bulat.
“sayang,,,”.
“Rasti, kok kamu telanjang?”.
“iya, ini hadiahnya”.
“kamu mau aku entot disini?”.
“terserah kamu, yang penting aku udah telanjang”.
“jadi kamu nantangin aku nih, ok kalau gitu”. Tubuhku langsung digarap Mario di kamar spa yang panas itu sehingga tubuhku dan tubuh Mario bermandikan keringat, selama menyetubuhiku, Mario meminum susuku yang manis. Setelah puas bermain di dalam spa, kami berganti baju dan pulang, di dalam mobil, aku menyusuinya dulu sebelum dia menyetir karena katanya dia haus. Sesampai di rumah, aku memberikannya makan yaitu sayur-sayuran dan kemudian mandi bareng lalu meneruskan olahraga di rumah yaitu olahraga ranjang.
Begitulah aktivitas yang aku dan Mario lakukan setiap hari. Karena selalu berkeringat baik di tempat fitness, spa, ataupun di rumah, serta makan-makanan yang bergizi juga meminum susuku yang bergizi tinggi membuat berat badan Mario turun menjadi 65 kg hanya dalam waktu 2 bulan. Setelah 2 bulan, kami sudah masuk kuliah lagi.
“Mac, sekarang kan kamu udah keren, body kamu juga udah six pack, mendingan kita putus terus kamu deketin Ana”.
“tapi aku sayang banget ama kamu”.
“hari gini masih sayang-sayangan, udah, mendingan kita putus”.
“yaudah deh, tapi aku masih boleh kan main ke rumah kamu?”.
“mmhh,, boleh, tapi hari minggu aja ya”.
“tiap minggu, boleh gak?”.
“boleh”.
“makasih ya”.
“yaudah, karena kita udah putus,, aku doa’in kamu berhasil ya deketin Ana”.
“ok, thanks”.

Berkunjung ke Desa 2



“kukuruyuk,,kukuruyuk”, bunyi ayam berkokok di pagi hari membangunkanku pada hari ke 4 aku berkunjung ke desa sekaligus menjadi tempat penyimpanan sperma Mang Karyo. Kulihat Mang Karyo dan penisnya masih tertidur sehabis menyerangku seharian seperti hari-hari sebelumnya.
“hmm,, Mang Karyo masih tidur, mendingan gue bikin sarapan deh,,”, kataku dalam hati. Aku bangun dari ranjang dan melangkah keluar dari kamar menuju ke dapur, aku membuat roti dilapisi selai kacang dan juga teh manis untuk Mang Karyo. Kalau dipikir-pikir aku memang sudah seperti istri Mang Karyo karena aku melakukan hal-hal yang dilakukan seorang istri kepada suaminya, seperti melayaninya kapan pun dia mau, membuatkannya sarapan, makan siang dan makan malam bahkan aku memandikannya setiap kali ia mandi. Setelah selesai, aku menata rapi sarapan yang kubuatkan untuk Mang Karyo di meja makan. Aku merasakan dan melihat noda sperma yang telah mengering di daerah sekitar vaginaku.
“anjrit,, Mang Karyo emang tua-tua keladi, makin tua makin hebat aja,, perasaan dulu gak segini banyak”, aku berbicara sendiri.
“ah, udah ah, mendingan gue bangunin Mang Karyo daripada makanannya tar dingin”. Lalu aku menuju kamar kembali untuk membangunkan Mang Karyo.
“ah, gue banguninnya beda ah,,”. Lalu aku berdiri di tepi ranjang dan agak membungkuk untuk mendekatkan wajahku dengan penis Mang Karyo. Aku menjulurkan lidahku dan menyentuhkan lidahku ke lubang kencing Mang Karyo, dia hanya bergerak sedikit dan bergumam tapi matanya tetap terpejam. Aku mengemuti kepala penisnya, dan Mang Karyo langsung terbangun.
“eh, non Bunga, bandel ya,,”.
“hehe,,gimana cara bangunin Bunga yang baru,, mantep kan?”.
“mantep,,mantep,,”.
“Mang Karyo, tuh udah Bunga bikinin sarapan,,”.
“ok,,yuk”. Lalu kami berjalan ke luar dan duduk di meja makan.
“ayo Mang,, dimakan rotinya,”.
“ok non,,”.
“o ya Mang,, mau makan roti yang itu apa rotinya Bunga?”, tanyaku sambil mengolesi payudaraku yang putih mulus dengan selai kacang.
“wah,, kalo dua-duanya gimana?”.
“yee, Mang Karyo maruk ah,, tapi gak apa-apa deh, Mang Karyo makan roti yang itu dulu abis itu baru roti punya Bunga”.
“ok non,,”. Lalu Mang Karyo memakan rotinya lagi sambil memperhatikanku yang sedang mengolesi kedua buah payudaraku dengan selai kacang. Mang Karyo selesai memakan sarapannya juga meminum tehnya.
“udah Mang, makannya?”.
“udah non,, sini dong non, biar Mang Karyo bisa makan roti lagi,,hehe”. Aku langsung mendekatinya, dan duduk di pangkuannya tapi aku tak memasukkan penis Mang Karyo ke dalam vaginaku.
“ayo, Mang Karyo, silakan dimakan rotinya”. Mang Karyo memegang kedua buah payudaraku dengan tangannya dan menggerakkan lidahnya menjelajahi setiap senti payudaraku yang terbalut selai kacang. Tanpa sadar aku menekan kepala Mang Karyo.
“ahh,,mmhh,,teerus,,Mang,,”, desahku menerima sapuan lidah Mang Karyo di payudaraku yang bergerak ke atas, bawah, kanan, kiri, dan memutar. Seiring dengan naiknya birahiku, aku juga merasakan batang Mang Karyo sudah mengeras dan mencapai ukuran maksimal.
Ketika aku menutup mata untuk meresapi nikmatnya jilatan Mang Karyo, tapi tiba-tiba Mang Karyo menghentikan aktivitasnya, spontan aku membuka mataku dan bertanya padanya.
“kenapa berhenti, Mang?”.
“ini non,, kasian si otong,, kedinginan, pengen masuk ke sarangnya”.
“oouu,, kasian,, si otong kedinginan ya,,sini biar Bunga masukkin ke sarangnya”. Lalu aku sedikit mengangkat tubuhku, dan meraih penis Mang Karyo dan menuntunnya ke pintu masuk lubang vaginaku, setelah kepala penisnya sudah berada di dalam vaginaku, aku langsung menurunkan tubuhku secara perlahan sehingga akhirnya penis itu sudah berada di dalam vaginaku yang memang merupakan soulmate dari penis Mang Karyo.
“nah, sekarang otong Mang Karyo kan udah gak kedinginan,,lanjutin dong jilatin toked Bunga”.
“itu mah gak usah disuruh lagi non,,”. Mang Karyo melanjutkan membersihkan payudaraku, dia mainkan kedua putingku dengan tangan dan mulutnya, juga kadang-kadang ia menggigit kecil kedua putingku secara bergantian.
“awwhh,,”, desahku manja ketika Mang Karyo menggigit kecil putingku.
Setelah payudaraku bersih dan terlihat putih mulus lagi, Mang Karyo dengan nakalnya menggerakkan pinggulnya sehingga penis Mang Karyo yang ada di dalam vaginaku juga ikut bergerak.
“ehh,, Mang Karyo nakal ya,, si otong digerakkin”.
“ah,, nggak kok,, si otong bergerak sendiri,,hehe,, jawabnya sambil tertawa kecil.
“bisa aja Mang Karyo,,emang Mang Karyo mau sekalian nih,,hmm?”.
“boleh juga nih..”. Lalu aku memutuskan untuk menggerakkan tubuhku naik turun, dan Mang Karyo pun mendorong penisnya ke atas sehingga terasa lebih masuk ke dalam vaginaku.
“oohh,,ahh,,”, desahku. Payudaraku berguncang naik-turun seiring tubuhku yang juga bergerak naik-turun. Mungkin Mang Karyo ngiler melihat payudaraku yang sekal dan putih mulus bergerak naik turun, jadi Mang Karyo langsung memegang payudaraku dan menyentil-nyentilkan lidahnya ke putingku. Mungkin 10 menit, kami bersetubuh dalam posisi duduk seperti ini.
“Mang, kita terusinnya sambil mandi yuk,,kayaknya badan Bunga udah bau nii,,”.
“iya,,non Bunga udah bau peju,,”.
“yee,,ini kan bau peju Mang Karyo,,”.
“hehe,,yuk non,,badan Mang Karyo juga udah bau keringet nih”.
“yaudah,,Bunga bangun dulu ya,,”.
“gak usah non,,biar Mang Karyo gendong non Bunga ampe kamar mandi”.
“emang Mang Karyo kuat?”.
“ngentotin non seharian aja kuat,,masa cuma gendong doang gak kuat..”.
“yaudah,,tapi ati-ati ya,, Bunga jangan ampe jatoh..”.
“sip non,, sekarang non Bunga peluk Mang Karyo deh,,”. Lalu aku melingkarkan tanganku ke leher Mang Karyo, sementara Mang Karyo mulai berdiri dengan perlahan. Dan aku juga melingkarkan kakiku ke pinggang Mang Karyo. Kemudian, Mang Karyo mulai berjalan ke kamar mandi, tentu saja selama bergerak, penis Mang Karyo juga bergerak-gerak di dalam vaginaku membuat sensasi tersendiri. Kadang-kadang Mang Karyo memeluk dan mendekatkanku sehingga dia bisa mencium dan melumat bibirku, aku menjulurkan lidahku agar Mang Karyo bisa mengemut dan menggigit lidahku. Begitu juga Mang Karyo, dia mengeluarkan lidahnya agar aku bisa mengemutnya.
Akhirnya kami sampai di kamar mandi.
“Mang,, Bunga turun dulu ya..”. Lalu aku turun dari tubuh Mang Karyo, dan otomatis penis Mang Karyo tercabut dari vaginaku.
“siapa yang mandi duluan nih, Mang Karyo apa Bunga duluan?”.
“gimana kalau non Bunga duluan?”.
“ok,,tapi Mang Karyo mau kan mandiin Bunga?”.
“mau banget dong non,,tapi abis itu non Bunga mandiin Mang Karyo ya..”.
“ok,,Mang, beres”. Lalu aku duduk di kursi kecil yang sudah disiapkan oleh Mang Karyo. Aku duduk di kursi kecil, lalu Mang Karyo mengguyur tubuhku dengan air.
“dingin Mang,,,”, kataku karena airnya memang terasa dingin. Kemudian, Mang Karyo menggosok-gosok sabun di tangannya hingga tangannya berbusa. Mang Karyo bergerak ke depan dan duduk bersila di hadapanku.
“sini non, kaki non taro di sini”, katanya sambil menepuk kedua pahanya. Aku menaruh kakiku di pahanya. Mang Karyo langsung mengusapkan kedua tangannya yang berlumuran sabun ke kaki kananku, dan dia benar-benar membersihkan kakiku dengan telaten.
Setelah kakiku berlumuran sabun, Mang Karyo mengurut betisku, lalu dia melanjutkan membersihkan kaki dan betis kiriku. Mang Karyo mengguyur kakiku untuk membilas sabun.
“nah,,kaki non udah bersih lagi, sekarang badan non..”.
“loh bukannya paha Bunga dulu,,kan tanggung..”.
“itu mah belakangan,,hehe,,”.
“oh, Bunga ngerti,,yaudah, Mang Karyo tolong bersihin badan Bunga ya”. Lalu Mang Karyo berjalan ke belakangku, dia menggosok-gosokkan sabun ke tangannya kemudian Mang Karyo mulai mengelap bagian perutku yang langsing. Mang Karyo menyabuni perut, leher, tangan, serta punggungku. Lalu ketika tiba saatnya untuk menyabuni payudaraku, Mang Karyo langsung semangat memijat dan meremas kedua buah payudaraku. Sambil menyabuni payudaraku, Mang Karyo menggesek-gesekkan penisnya ke punggungku.
“Mang Karyo ngapain sih??”.
“hehe,,lagi nyikatin badan non Bunga pake kontol Mang Karyo”.
“ada-ada aja Mang Karyo,,yaudah,,lanjutin aja,,”.
“ok non,,,”, katanya sambil meneruskan menggesek-gesekkan penisnya ke atas dan ke bawah punggungku.
Setelah itu, Mang Karyo membilas tubuhku yang seluruhnya sudah tertutupi sabun kecuali wajahku dengan air.
“nah, sekarang memek non,,”. Aku disuruh masuk ke dalam bathtub yang sudah diisi dengan air. Aku masuk ke dalam bathtub yang memang agak besar dari bathtub-bathtub umumnya. Dengan perlahan, aku duduk dan menaruh kepalaku di bantal yang sudah disiapkan di kepala bathtub. Lalu Mang Karyo juga masuk ke dalam bathtub dan duduk di depan selangkanganku. Kemudian aku menaruh masing-masing kakiku di pinggiran bathtub sehingga vaginaku yang setengahnya terendam air bisa terlihat oleh Mang Karyo. Lalu Mang Karyo langsung meraba-raba dengan tangannya yang bersabun, mulai dari lututku, tangan Mang Karyo terus merembet ke pahaku yang putih mulus hingga ke vaginaku. Dia bersihkan bibir luar vaginaku dan klitorisku serta daerah pantatku, Mang Karyo juga memasukkan dua jarinya untuk membersihkan bagian dalam vaginaku sekaligus memainkan vaginaku.
Aku berpegangan pada pinggiran bathtub agar tidak jatuh sebab tubuhku menggelinjang karena Mang Karyo dengan gencarnya menggerakkan 2 jarinya keluar masuk vaginaku.
“oouhh,,Mang,,mmhh,,!!”, erangku ketika aku orgasme.
“yee,, si non,,lagi dibersihin malah ngencrot”.
“lagian si Mang Karyo,,memek Bunga pake diobok-obok segala..”.
“emang kenapa non?”.
“pake belaga pilon,,kan enak,, jadi ngencrot deh..”.
“hehe,,yaudah tar Mang Karyo bersihin memek non Bunga lagi deh,, sekarang gantian dong..”.
“iya,,Mang Karyo,, suami bo’onganku,,sabar dong”. Lalu kami berdua keluar dari bathtub dan kini Mang Karyo yang duduk di kursi kecil. Aku mengguyurnya dan mulai menggosok-gosokkan sabun ke tanganku, tapi aku punya ide lain, aku menggosok-gosokkan sabun ke payudaraku hingga kedua buah payudaraku penuh dengan busa.
“Mang Karyo,, kalo Bunga nyikatin badan Mang Karyo pake toket Bunga, boleh gak?”.
“boleh banget,,”. Dan aku pun mulai menempelkan payudaraku di punggung Mang Karyo dan mulai menggerakkannya ke atas dan ke bawah secara perlahan.
“wah,,enak banget disabunin pake toket non Bunga,,empuk banget”. Dipuji seperti itu, aku semakin semangat menyabuni Mang Karyo dengan payudaraku, aku menggesek-gesekkan payudaraku ke kedua tangan dan kedua kakinya. Setelah itu Mang Karyo melebarkan kakinya agar aku bisa membersihkannya. Aku urut semua bagian selangkangannya dengan tanganku yang bersabun, apalagi penisnya, aku mengurutnya dari pangkal hingga ke kepalanya berulang-ulang kali sampai dia terlihat ngilu.
“uudahh noon,,nggiluu,,”.
“Mang Karyo,,kalo nyemprot peju ke memek Bunga aja bisa terus-terusan,,masa gini doang ngilu”, kataku sambil terus mengurut penis Mang Karyo.
“kaann bedaa,,”, balas Mang Karyo sambil menahan ngilu dengan mati-matian, aku menghentikan aktivitas karena kasihan melihat Mang Karyo.
“gini aja, Mang. Gimana kalo penis Mang Karyo, Bunga jepit pake toket Bunga”.
“wah,,setuju tuh non,,”.
“yaudah,, sekarang Mang Karyo diri,,”.
Mang Karyo berdiri, dan aku langsung bertumpu pada kedua lututku agar payudaraku sejajar dengan penis Mang Karyo. Mang Karyo langsung menaruh penisnya di belahan payudaraku, kemudian Mang Karyo menggerakkan penisnya ke atas dan bawah di belahan payudaraku, aku merapatkan kedua buah payudaraku agar penis Mang Karyo terjepit di tengah-tengah payudaraku.
“aduuh non,,empuk ‘n anget banget”. Karena payudaraku penuh dengan busa dari sabun, maka penis Mang Karyo juga tertutupi sabun.
“nah ****** Mang Karyo kan sekarang udah kena sabun tuh,, Bunga siram ya,,”. Lalu aku menyiram badan Mang Karyo dan menyiram tubuhku sendiri.
“nah,,non Bunga,,Mang Karyo punya ide nih..”.
“apaan tuh Mang?”.
“gimana kalo Mang Karyo bersihin bagian dalem memek ‘n pantat non Bunga,, pake kontol Mang Karyo”.
“boleh juga tuh,,yok”, lalu aku mengurut penis Mang Karyo lagi dengan sabun hingga penis Mang Karyo mengkilat dan licin. Setelah itu, aku membelakangi Mang Karyo dan menaruh tanganku di tembok, lalu Mang Karyo mulai mendekatkan tubuhnya kepadaku yang sudah siap menerima penisnya di lubang anusku atau vaginaku.
Mang Karyo menancapkan penisnya dalam-dalam ke anusku secara tiba-tiba sehingga spontan aku berteriak kecil.
“awwhh,,Mang Karyo nakal nih,,”, omelku.
“maaf non,,si otong udah gak sabar pengen masuk pantat non”.
“huu,,dasar,,yaudah, sekarang gosokkin pantat Bunga ya,,”.
“siap,,non”. Mang Karyo langsung memompa penisnya keluar masuk anusku, karena licin, penis Mang Karyo dengan mudah bergerak keluar masuk anusku.
“aahh,,oouhh,,yeeaahh!!”, racauku tak jelas. Tak henti-hentinya Mang Karyo menghujamkan penisnya ke dalam anusku, dan juga Mang Karyo meremas-remas kedua buah payudaraku yang menggelantung dengan indah. 15 menit kulayani penis Mang Karyo dengan anusku hingga akhirnya aku mencapai orgasme dan cairanku ada yang mengalir melalui pahaku dan ada juga yang langsung menetes ke lantai. Mang Karyo mencabut penisnya dari anusku yang sudah dilumasi sabun dari batang penis Mang Karyo.
“non,,olesin sabun lagi dong”.
“ok deh, Mang Karyo,,”. Aku berbalik badan dan berjongkok di hadapan Mang Karyo lagi. Aku urut lagi penis Mang Karyo hingga pangkal penis Mang Karyo sampai helmnya mengkilat dan licin kembali.
“ok Mang,, udah siap lagi,,sekarang bersiin memek Bunga ya,,”.
“dengan senang hati,,”. Aku membalikkan tubuhku lagi, tapi kali ini aku dipeluk oleh Mang Karyo. Mang Karyo memelukku dengan menaruh tangan kirinya di bawah kedua buah payudaraku, sementara tangan kanannya menuntun penisnya sendiri ke pintu masuk vaginaku. Lalu Mang Karyo mulai mendorong penisnya masuk ke dalam vaginaku dengan perlahan. Setelah penis Mang Karyo sudah klop di dalam vaginaku, Mang Karyo langsung menggerakkan penisnya tapi kali ini dengan sangat perlahan sehingga urat-urat yang menonjol di batang penis Mang Karyo bergesekkan dengan dinding vaginaku menimbulkan sensasi luar biasa. Kadang-kadang aku menolehkan kepalaku ke belakang agar Mang Karyo bisa melumat-lumat bibirku. Dan selama Mang Karyo memompa penisnya keluar masuk vaginaku, dia juga meremas-remas payudaraku dan memilin-milin serta menarik-narik putingku.
“enngghh,,Mang Karyo,,oohh,,aahh”.
“non Bunga,,ookkhh!!”, erang Mang Karyo mencapai puncaknya setelah 15 menit menyarangkan penisnya di dalam vaginaku. Mang Karyo menyemburkan spermanya ke dalam vaginaku ketika aku juga mencapai orgasme sehingga cairanku dan sperma Mang Karyo bercampur di rahimku. Sambil menunggu Mang Karyo selesai menyemprotkan benihnya ke dalam rahimku, aku membiarkan Mang Karyo menjilati tengkuk leherku dan daun telingaku. Setelah selesai, Mang Karyo langsung mencabut penisnya dan membasuhnya dengan air.
“non,,boleh gak memek non Bunga,, Mang Karyo semprot pake shower?”.
“yee bolehlah,,kan Bunga istri Mang Karyo,,jadi terserah Mang Karyo mau ngapain..”.
“bener non?”.
“bener,,tubuh Bunga boleh diapain aja ama Mang Karyo..”.
“asiik,, kalo gitu non Bunga buka dikit pahanya,,”. Aku merenggangkan pahaku agar Mang Karyo bisa leluasa menyemprot vaginaku dengan memakai shower.
Lalu Mang Karyo mendekatiku lagi dan sudah membawa shower yang memancurkan air. Kemudian Mang Karyo berjongkok di depan vaginaku dan Mang Karyo pun langsung menaruh shower di depan lubang vaginaku sehingga air masuk ke dalam vaginaku.
“aduuhh,,Mang,,hihi,,gelii,,”, kataku sambil menahan geli. Tak lama kemudian, Mang Karyo menjauhkan shower dari vaginaku.
“udahan yuk non,,lama-lama dingin juga nii,,”.
“yaudah,, Mang Karyo duluan aja,,Bunga mau pake obat buat memek Bunga,, biar keset ‘n wangi gitu deh..”.
“ooh,,yaudah,,Mang Karyo duluan ya..”. Lalu Mang Karyo keluar dari kamar mandi, dan aku memakai obat khusus vagina. Setelah itu aku keluar dari kamar mandi, mengeringkan tubuhku dan menyusul Mang Karyo yang sedang menonton tv di ruang tamu. Aku langsung menaruh kepalaku di paha Mang Karyo yang sedang menonton tv, dan otomatis di samping kepalaku adalah penis Mang Karyo.
“Mang,,Bunga pengen nanya nih,,”.
“nanya apa non Bungaku yang cantik?”.
“Mang Karyo pake apa sih,, kok bisa ngentotin Bunga terus-terusan padahal kan Mang Karyo udah tua”.
“emang Mang Karyo belum pernah cerita ya..”.
“belum,,dari dulu,,setiap Bunga nanya,,pasti Mang Karyo bilangnya rahasia perusahaan,, sekarang kasih tau dong,, kalo gak,, Mang Karyo gak boleh ngentotin Bunga lagi..”.
“waduh non Bunga,,ancemannya nyeremin banget..Iya deh, Mang Karyo ceritain,,”. Mang Karyo bercerita kepadaku kalau dia mendapatkan stamina yang luar biasa itu dari seorang kakek. Kakek itu juga warga desa dan dikenal sangat baik dan sering menolong warga desa sewaktu ia muda, tapi setelah ia ditinggal mati oleh istrinya, ia lebih suka menyendiri, dan hanya Mang Karyo yang menjenguknya seminggu 1 kali.
“terus,, Mang Karyo ngapain bolak-balik ke rumah kakek itu?”.
“bantuin bikin jamu,,”.
“jamu apa?”.
“jamu pasak bumi,,”.
“hah?! Ooh pantes aja,, jangan-jangan Mang Karyo minum jamu itu ya,,”.
“iya,,”.
“huu,,dasar,,berarti bukan kemampuan sendiri dong,,”.
“biarin aja,, yang penting non Bunga,,suka kan?”.
“iya sih,,hehe”.
“o ya,, non, Mang Karyo kan ceritanya mau ngasih tanda terima kasih ke kakek itu,,tapi apa ya?”.
“kasih apa ya? Haduh,,Bunga jadi bingung”.
“gini non,,rencananya Mang Karyo pengen ngasih non Bunga ke dia..”.
“hah?! maksud Mang Karyo,, Bunga dijadiin kado?”.
“iya,,maaf non Bunga,,abisnya dikasih duit atau makanan dia gak mau, jadi ini jalan satu-satunya”.
“yaudah,,gak apa-apa,,itung-itung berbakti ama suami..Haha..”.
“si non bisa aja,,yaudah yuk non,,kita berangkat,,”. Aku bangun dan menuju kamarku untuk memakai baju begitu juga dengan Mang Karyo. Kemudian setelah memakai baju, kami berangkat ke rumah kakek-kakek yang diceritakan Mang Karyo. Agak jauh berjalan, akhirnya kami sampai di rumah kakek itu.
“punten,,Mbah Tanto,,punten,,”, Mang Karyo berteriak sambil mengetuk pintu. Tak lama kemudian, ada yang membuka pintu, terlihat kakek yang umurnya mungkin 70an.
“oohh,,Karyo toh,,ada apa yo??”.
“nggak mbah,,saya mau minta jamu mbah lagi..”.
“wah,,wah,,lo mau bikin anak lagi yee Yo,, ama istri lo si Parti?”.
“bukan Mbah,,bukan ama si Parti,,”.
“loh,,terus lo mau bikin anak ama siapa lagi?”.
“ama ini nih Mbah,,”, kata Mang Karyo sambil menggeser badannya dan mendorongku ke hadapan Mbah Tanto.
“wah,,sopo iki,,cakep banget,,”.
“ini namanya neng Bunga,,Mbah,,majikan sekaligus simpenan saya Mbah”.
“simpenan lo? muka jelek kayak lo masa bisa punya simpenan cakep banget kayak gini,,”.
“yee,,si Mbah,,kalo gak pecaya,,tanya aja sendiri,,”.
“emang bener neng?”, tanya Mbah Tanto kepadaku, aku hanya membalasnya dengan sedikit mengangguk dan tersenyum.
“tuh kan,,Mbah,,gak pecaya sih..”.
“tau deh,,terus ngapain lo bawa neng Bunga ke sini”.
“gini Mbah,, saya ada urusan sampe ntar sore..neng Bunga gak mau di rumah sendirian,,jadi saya bawa aja kesini,,gak apa-apa kan Mbah?”.
“ya,,nggak apa-apa toh,,”.
“yaudah Mbah Tanto,,saya pergi dulu..”. Lalu Mang Karyo pergi menjauh dari rumah Mbah Tanto.
“ayo neng Bunga,,masuk ke dalam..”.
“oh iya kek,,”. Aku menyusulnya masuk ke dalam rumah.
“ayo neng,,silakan duduk,,”.
“oh ya kek,,makasih”, lalu aku duduk di hadapan Mbah Tanto.
“neng Bunga, mau minum apa nih..”.
“apaan aja,,”.
“kalau gitu,, Mbah bikinin teh ya..”.
“maaf kek,,ngerepotin..”.
“ah,,nggak apa-apa,,tunggu sebentar ya..”. Tak lama kemudian, Mbah Tanto datang dengan membawa minuman.
“ini minumannya,.ayo neng Bunga,, diminum”.
“makasih kek,,jadi gak enak nih ngerepotin..”.
“gak apa-apa neng,,oh ya neng,,panggilnya Mbah Tanto aja,,”.
“ok deh Mbah,,”, sambil terus mengobrol dia tidak henti-hentinya mengambil kesempatan untuk melihat ke arah payudaraku dan juga kaki jenjangku yang putih mulus.
“maaf ni Mbah,,tapi kata Mang Karyo,,istri Mbah udah meninggal ya?”.
“iya,,5 tahun yang lalu,,”.
“pantes aja,,ngeliat gue langsung jelalatan matanya,,”, kataku dalam hati.
“terus Mbah gak nyari penggantinya?”.
“wong Mbah udah tua,,ngapain nyari istri lagi..”.
“kirain Bunga, Mbah mau nyari lagi,,”.
“neng Bunga sendiri, bener,,jadi simpenannya si Karyo?”.
“bener,,”.
“kok bisa?”.
“ceritanya panjang deh Mbah,,pokonya dari SMA dulu”.
“hah?! pas neng Bunga masih SMA,,berarti udah lama dong,,sialan tuh Karyo,,punya simpenan cakep banget gak bilang-bilang,,eh maaf, neng Bunga”, ucapnya keceplosan.
“gak apa-apa Mbah,, oh ya, katanya Mbah Tanto jago mijet ya?”.
“jago si nggak,,cuma bisa dikit,,kenapa, neng Bunga mau dipijet?”.
“iya nii Mbah,,badan Bunga pegel-pegel”.
“kalo gitu,,neng, tunggu di kamar Mbah aja..”.
“dimana kamarnya, Mbah?”.
“di sana neng”, katanya sambil menunjuk ke sebuah kamar.
“terus Bunga harus buka baju gak, Mbah?”.
“terserah neng Bunga deh,,”. Aku menuju kamar Mbah Tanto, ternyata lumayan juga kamarnya, rapih, bersih, dan kasurnya juga besar. Untuk membuat Mbah Tanto semakin tergoda dengan kemulusan tubuhku, aku memutuskan untuk menelanjangi diriku hingga tak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh sekalku. Lalu aku tengkurap dan menutupi tubuhku dengan kain yang ada di dekatku, tak lama kemudian Mbah Tanto datang. Dia langsung duduk di tepi ranjang dan mulai menggosok-gosokkan minyak ke tangannya. Kemudian, Mbah Tanto mulai memijat leher dan bahuku.
“mmm,,enak banget pijetan Mbah Tanto”.
“makasih,,”. Tak begitu lama, Mbah Tanto selesai memijat leherku.
“udah,,neng Bunga,,”.
“yah,,tanggung,,kalau gitu, semuanya aja deh,,abis Mbah Tanto jago mijet sih”.
“tapi gak apa-apa neng? ntar badan neng Bunga keliatan?”.
“udah,,gak apa-apa”.
“yaudah,,Mbah buka kainnya ya,,”. Lalu Mbah Tanto mulai membuka kain yang menutupi tubuhku hingga akhirnya tubuhku yang putih terlihat oleh Mbah Tanto yang tertegun melihat pantatku yang putih nan kenyal.
“kenapa, Mbah? kok diem?”.
“nggak,,badan neng Bunga bagus banget..”.
“ah,, Mbah bisa aja,, Mbah,,ayo dong mulai pijetnya,,”. Lalu, Mbah Tanto mulai memijat punggungku sampai ke pinggangku, setelah selesai, Mbah Tanto naik ke ranjang dan duduk di dekat kakiku. Dia memijiti kakiku, betisku, pahaku, hingga akhirnya tangannya merembet ke daerah dekat vaginaku yang tentunya dapat terlihat oleh Mbah Tanto.
Mbah Tanto sengaja berulang-ulang menyentuhkan tangannya ke pangkal pahaku sehingga jarinya ada yang menyentuh bibir luar vaginaku. Aku pura-pura tidak sadar, dan membiarkannya, padahal birahiku sudah mulai naik. Mbah Tanto memindahkan kedua tangannya dan memulai memijit pantatku. Sepertinya Mbah Tanto gemas melihat pantatku yang kenyal sehingga dia terus menerus meremas-remas pantatku. Tiba-tiba dia menggulingkan tubuhku, dan langsung menaiki tubuhku dan memegangi kedua tanganku.
“Mbah,,jangan,,jangan”, teriakku seolah tak menginginkan hal ini. Tanpa menjawabku, Mbah Tanto langsung menyerangku dengan melumat habis bibirku, dan memainkan lidahnya di dalam rongga mulutku. Kemudian, Mbah Tanto menurunkan ciumannya ke leherku yang jenjang, turun hingga ke payudaraku. Yakin sudah menguasaiku, Mbah Tanto melepaskan pegangannya terhadap tanganku dan mulai mengeksplorasi kedua buah payudaraku dengan lidahnya dan mulutnya yang ompong. Geli sekaligus nikmat menjalar di sekujur tubuhku saat Mbah Tanto mengemut-emut dan menyentil-nyentilkan lidahnya ke kedua putingku secara bergantian.
Setelah puas bermain-main dengan payudaraku, Mbah Tanto menurunkan jilatan dan ciumannya ke perutku lalu dia menjulurkan lidahnya ke pusarku.
“Mbah,,jangannn,,”. Tapi dia tidak mengindahkanku, malah dia menurunkan mulutnya ke daerah selangkanganku. Mbah Tanto menelusuri pangkal paha kanan dan kiriku secara bergantian membuatku semakin pasrah saja, lalu Mbah Tanto memanjakan vaginaku dengan lidahnya.
“oohh,,ahh,,mmhh,,ahh,, teruuss,,Mbaahhh”. Mbah Tanto semakin semangat membenamkan wajahnya diantara pahaku sampai akhirnya 5 menit kemudian aku mengalami orgasme pertamaku. Tentu saja, Mbah Tanto tanpa pikir panjang lagi langsung menyeruput cairan vaginaku yang ada di sekitar bibir vaginaku dan juga di dalam vaginaku. Setelah selesai mencicipi cairanku yang cukup manis dan gurih, Mbah Tanto langsung menggulingkan tubuhku ke samping kanan sehingga sekarang tubuhku berada di tepi ranjang.
Mbah Tanto tidur di belakang tubuhku dan mengangkat kaki kananku ke atas, lalu dia menuntun penisnya ke lubang vaginaku. Setelah berada tepat berada di depan lubang vaginaku, dia mengelus-eluskan penisnya ke bibir vaginaku membuat vaginaku semakin gatal saja karena sudah ngiler ingin ditanami penis Mbah Tanto. Mbah Tanto mencoblos vaginaku dengan kuat.
“aawwhh,,”, teriakku agak manja. Ternyata setelah penis Mbah Tanto ada di dalam vaginaku, aku baru sadar kalau penis Mbah Tanto cocok sekali dengan vaginaku sama seperti penis Mang Karyo. Mbah Tanto terus menerus memompa penisnya ke vaginaku, dan kadang-kadang dia mencium tengkuk leherku membuat bulu kudukku berdiri, seiring dengan birahiku yang semakin tinggi. Entah berapa lama Mbah Tanto menggerakkan penisnya keluar masuk vaginaku, yang pasti kini aku sudah mengalami orgasmeku yang kedua sehingga di kamar Mbah Tanto hanya muncul 3 suara yaitu suara kecipak air ketika Mbah Tanto memompa penisnya, suara desahanku, dan juga bunyi nafas kami yang saling memburu.
Mbah Tanto mencabut penisnya dan menarik tubuhku kebelakang sehingga kini aku tidur terlentang dengan pasrah lagi di hadapan Mbah Tanto. Ternyata benar, penisnya hampir sama dengan penis Mang Karyo, tapi urat-urat yang menghias batang penis Mbah Tanto lebih banyak daripada milik Mang Karyo.
“pantes aja,,lebih mantep,, ternyata kontol Mbah Tanto lebih berotot daripada kontolnya Mang Karyo”, gumamku dalam hati. Mbah Tanto melebarkan kakiku, dan tanpa membuang 0,1 detik pun, Mbah Tanto langsung menancapkan penisnya lagi ke dalam vaginaku. Dan dimulailah pemompaan terhadap vaginaku oleh Mbah Tanto.
“emmhh,,aaoohh,,uuhh”, desahku tak karuan karena rasa nikmat yang kuterima memang senikmat ketika aku disetubuhi oleh 2 orang. Mbah Tanto pun meracau.
“oohhh,,neng Bungaa,,sempiit baangeet”. Mbah Tanto terus menyetubuhiku dalam posisi seperti ini hingga aku mencapai orgasmeku yang ketiga. Akhirnya Mbah Tanto bosan dengan posisi ini sehingga dia memutuskan untuk mencabut penisnya dari vaginaku, aku bisa melihat penisnya sangat mengkilat karena sudah disembur oleh vaginaku sebanyak 2 kali.
Mbah Tanto mendorong kedua kakiku ke depan sehingga kedua kakiku tertekan ke dadaku. Dia setengah berdiri dan memegangi kedua kakiku, lalu burung Mbah Tanto keluar masuk lagi ke tempat persembunyiannya yaitu vaginaku. Selama menggerakkan penisnya, Mbah Tanto menjilati telapak kakiku membuatku geli tidak karuan. Detik demi detik penis Mbah Tanto tak bosan-bosannya keluar masuk vaginaku hingga penis Mbah Tanto kusiram lagi dengan cairan vaginaku dalam orgasmeku yang keempat. Tak lama setelah itu, kurasakan penis Mbah Tanto berdenyut-denyut yang menandakan kalau sebentar lagi dia akan orgasme. Menyadari dirinya akan orgasme, Mbah Tanto mencabut penisnya dan membiarkanku menurunkan kakiku lagi, sementara dia langsung bergerak dengan cepat untuk mendekatkan penisnya ke wajahku. Setelah penisnya berada di depan wajahku, Mbah Tanto mengocok penisnya dengan tangannya sendiri hingga penisnya sudah siap memuntahkan isinya.
“croot,,croot,,crot”, semburan hangat sperma Mbah Tanto menerpa seluruh wajahku hingga ke rambutku. Dan karena kadang-kadang Mbah Tanto mengincar mulutku, aku membuka mulutku lebar-lebar agar semprotan lahar putih Mbah Tanto bisa masuk ke dalam mulutku. Hampir seluruh wajahku tertutupi sperma Mbah Tanto yang kental itu, dan itu pun dia masih menyemburkan spermanya ke wajahku. Akhirnya, penis Mbah Tanto sudah selesai mengosongkan isinya, Mbah Tanto langsung membanting dirinya sendiri ke samping tubuhku, dan nafasnya tersengal-sengal sama sepertiku. Setelah 3 menit beristirahat, nafasku dan nafas Mbah Tanto sudah kembali normal.
“maaf neng Bunga,,Mbah gak tahan ngeliat badan neng,,mulus banget,,”.
“ah,,nggak apa-apa Mbah,,Bunga juga seneng”.
“maksud neng Bunga?”.
“sebenarnya tuh,, Mang Karyo nganterin Bunga ke sini,,supaya Bunga bisa ngelayanin Mbah Tanto”.
“yang bener neng?”.
“bener,,Bunga itu sebenernya kado dari Mang Karyo buat Mbah Tanto”.
“wah,,jadi Mbah boleh ngapa-ngapain neng Bunga dong?”.
“ya boleh lah,, terserah Mbah Tanto..”.
“asik banget,,oh ya,,maafin Mbah ya,,buang pejunya di muka neng Bunga,,jadi kotor gitu deh,,”.
“gak apa-apa kalee,,Mbah,,itung-itung facial”, kataku sambil meratakan sperma Mbah Tanto ke seluruh wajahku.
“sebenernya kalo Mbah mau buang peju Mbah di dalem memek Bunga juga gak apa-apa,,”, tambahku.
“wah,,gak nyangka,,neng Bunga kan cantik banget,,kok mau sih ama macem kayak Mbah ‘n si Karyo?”.
“gak tau de,,Mbah,,Bunga juga bingung,,kayaknya sih Bunga diciptain emang buat Mbah ‘n Mang Karyo..”.
“tapi kan neng Bunga cantik ‘n badan neng Bunga juga seksi banget,,masa gak ada cowok ganteng yang ngelirik,,”.
“banyak banget,,saking banyaknya,,Bunga jadi bosen sendiri,,”.
“oohh,,gitu,,berarti Mbah ama Karyo beruntung banget dong,,bisa dilayanin cewek idaman semua lelaki kayak neng Bunga,,”.
“aah,,bisa aja Mbah mujinya,,”, tak disangka sudah 15 menit kami berdua mengobrol.
Kulihat penis Mbah Tanto sudah mulai bangun lagi.
“wah,,****** Mbah Tanto udah bangun lagi,,cepet banget ya”, kataku.
“iya dong,,”.
“tapi kalo Mang Karyo bangunnya abis 30 menit..”.
“kalo si Karyo kan murid gue,,”.
“oh iya ya,,”.
“gimana,,neng Bunga,,boleh gak Mbah entot lagi?”.
“boleh aja Mbah,,terus-terusan ampe sore juga gak apa-apa,,”.
“kalo Mbah nyobain pantat neng,,boleh gak?”.
“ya elah,,si Mbah,,gini aja deh,,anggep aja Bunga itu istri Mbah,,jadi Mbah boleh ngapain aja,,”.
“asik,,”.
“yaudah,,tapi Bunga cuci muka dulu ya,,biar bersih”.
“ok,,”, lalu aku pergi ke kamar mandi dan mencuci mukaku. Setelah cuci muka, aku kembali ke kamar Mbah Tanto.
“ok,,mbah,,kita mulai ronde ke 2,,”. Setelah itu, dimulailah persetubuhan antara seorang kakek perkasa dengan gadis muda dan cantik yang mau diapain aja. Ternyata Mbah Tanto tau caranya memanjakan wanita, dia menelusuri lekuk tubuhku dengan lidahnya tanpa terkecuali karena katanya dia sangat kagum dengan keindahan dan kemulusan tubuhku. Karena perlakuannya itulah, timbul rasa sayang di dalam diriku terhadap Mbah Tanto sama seperti rasa sayangku terhadap Mang Karyo.
Setiap 1 ronde, Mbah Tanto bisa menyetubuhiku selama 45 menit, dan aku bisa orgasme 4 kali atau lebih, setelah Mbah Tanto menyemburkan spermanya baik ke dalam anus, mulut, ataupun vaginaku, kami beristirahat selama 15 menit sebelum memulai ronde berikutnya. Bayangkan saja, dari jam 10 pagi hingga jam 6 sore, Mbah Tanto melampiaskan nafsu setannya yang selama 5 tahun lebih terpendam terhadap diriku sehingga Mbah Tanto terus menerus menyetubuhiku hingga aku tidak bisa menghitung sudah berapa ronde kami bermain, sudah berapa puluh kali aku orgasme, dan entah sudah berapa liter sperma Mbah Tanto yang masuk ke dalam tubuhku baik masuk lewat mulut, anus, ataupun vaginaku. Jam 6 sore lewat sedikit, Mang Karyo kembali ke rumah Mbah Tanto.
“punten,,Mbah,,”.
“siapa?”, teriak Mbah Tanto yang sedang duduk di ruang tamu sambil menghisap rokok.
“Karyo,,Mbah,,”.
“oh,,masuk aja Yo,,gak dikunci,,”.
“gimana,,Mbah,,kado dari saya?”.
“lo kalo mau kasih kado yang enak banget,,bilang-bilang dulu,,jadinya kan Mbah bisa siap-siap”.
“tapi,,enak kan Mbah?”.
“bukannya enak lagi tapi mantab,,makasih ye Yo,,gara-gara lo,,gue bisa ngerasain memek lagi,,memek gadis kota lagee”.
“sama-sama Mbah,,gara-gara Mbah,,saya bisa dapet simpenan yang cantik dan mau diapain aja,,”.
“gimana kalo simpenan lo alias neng Bunga kita pake bareng-bareng?”.
“boleh aja sih,Mbah,,tapi non Bunganya sekarang ada di mana?”.
“nih disini,,”, kata Mbah Tanto sambil membuka sarungnya sehingga aku yang sedang mengulum penis Mbah Tanto bisa dilihat oleh Mang Karyo.
“oh,,non Bunga lagi asik karaokean ya,,”. Aku mengeluarkan penis Mbah Tanto yang sudah berlumuran air liurku, kemudian berdiri dan duduk di kursi.
“eh, Mang Karyo,,udah balik lagi,,”.
“eh non Bunga,,tuh,masih ada peju di mulutnya”. Aku menyeka sisa sperma yang ada di mulutku dengan punggung tanganku.
“gile lo Yo,,berarti dari 4 hari yang lalu,,lo ******* ama neng Bunga terus dong?”.
“iya dong Mbah, makanya saya jarang pulang ke rumah,,”.
“oh ya,,neng Bunga gak takut punya anak dari Mbah atau si Karyo?”.
“nggak apa-apa Mbah,,pokoknya Bunga gak bakal hamil”, balasku.
“oh ya Mbah, ngomong-ngomong jamunya mana?”, tanya Mang Karyo.
“oh ya,,sebentar,,Mbah ambil dulu,,”, lalu Mbah Tanto meninggalkan aku dan Mang Karyo.
“gimana non,,si Mbah?”.
“kuat banget,,Bunga sampe kewalahan..”.
“coba non,,liat dong memek non Bunga”.
“nih,,”,kataku sambil melebarkan pahaku sehingga daerah selangkanganku yang belepotan dengan sperma bisa terlihat.
“wuih,,ampe belepotan kayak gitu..”.
“ah,,Mang Karyo juga kalo ngentotin Bunga kan ampe belepotan begini..”.
“emang iya ya,,hehe,,Mang Karyo gak nyadar,,”.
“oh ya Mang Karyo kenapa manggil Mbah Tanto pake Mbah? padahal kan umur Mang Karyo ama Mbah Tanto gak terlalu jauh beda,,”.
“iya sih,,tapi kan Mbah Tanto udah kayak guru Mang Karyo,,jadi Mang Karyo manggil Mbah aja,,daripada manggil master atau guru..Iya, kan?”.
“iya juga,,”, tak lama kemudian Mbah Tanto kembali dengan memegang sesuatu.
“nih Yo,,jamu lo,,”.
“kayaknya beda dari jamu kemaren,,”.
“iya,,ni jamu racikan gue yang baru,,”.
“efeknya apa Mbah?”.
“sama kayak jamu yang udah-udah,,tapi jamu yang ini bisa bikin ****** lo ngaceng terus,,”.
“wah,,ini dia jamu yang saya tunggu-tunggu,,tapi berhasil gak?”.
“itu dia,,Mbah belum nyoba ni jamu,,jadi Mbah gak tau ini berhasil apa gak,,”.
“loh,,bukannya Mbah udah nyoba ama non Bunga?”.
“nggak,,tadi saking udah nafsu banget ama neng Bunga, Mbah jadi lupa minum jamu itu,,”.
“jadi tadi Mbah belum minum jamu?”, tanyaku.
“belum, abis ngeliat bodi neng Bunga yang mulus banget,,Mbah jadi lupa deh”.
“gak minum jamu aja bisa ngentotin Bunga dari jam 10 ampe jam 6,,gimana kalo udah minum?”, tanyaku nakal.
“ya paling-paling,,neng Bunga gak bisa turun dari ranjang”.
“emang kenapa tuh?”, tanyaku menggoda.
“ya Mbah entotin terus,,haha”, jawab Mbah Tanto yang diiringi gelak tawa kami, sambil tertawa aku memakai bajuku lagi.
“yaudah Mbah,,kami pulang dulu ya,,mau nyobain jamu”, kata Mang Karyo sambil minta izin ke Mbah Tanto.
Kulihat muka Mbah Tanto sedikit sedih, aku mencolek Mang Karyo dan memberikan isyarat kepada Mang Karyo, untungnya Mang Karyo langsung mengerti maksudku.
“emm,,Mbah,,Mbah mau nyobain jamu ini juga”.
“emang boleh Yo?”.
“ya bolehlah,,kan Mbah yang bikin jamu ini”.
“terus cobain ke siapa?”.
“yee,,si Mbah pake nanya,,yaa kita cobain efek jamu ini ke non Bunga lah”.
“emang neng Bunga mau?”.
“mau aja,,tapi jangan disini mendingan di rumah Bunga aja”, jawabku.
“ok kalo gitu,,yuk Mbah,,kita bareng-bareng,,”, ajak Mang Karyo.
“bentar, Mbah pake baju dulu”. Setelah Mbah Karyo sudah memakai baju dan mengganti sarungnya dengan celana panjang, kami pun langsung berangkat. Selama perjalanan, tak hentinya mereka berdua meraba-raba payudara dan pantatku. Aku tidak keberatan karena sudah jam 6 sore sehingga jalanan sepi, hal ini disebabkan karena menurut tradisi desa ini, warga desa tidak boleh keluar rumah kecuali ada urusan yang penting.
Akhirnya kami sampai di rumahku dan begitu aku sudah ada di dalam rumah, aku langsung melepas bajuku sendiri yang membuat Mbah Tanto kebingungan.
“loh,,neng Bunga kok tiba-tiba buka baju?”.
“gini Mbah,,saya buat peraturan,,kalo di dalem rumah,,non Bunga gak boleh pake baju,,”, jawab Mang Karyo.
“wah,enak banget si lo,,padahal neng Bunga majikan lo,,tapi lo yang buat peraturan,,”.
“hehe,,”, Mang Karyo hanya tertawa.
“ok,,neng Bunga,,kita mulai sekarang aja,,”.
“eiit,,tar dong,,Bunga mandi dulu biar wangi lagi,,”.
“yaudah,,sana non Bunga mandi dulu,,ayo Mbah,,sambil nungguin non Bunga selesai mandi mendingan kita minum jamu ‘n nyantai dulu”.
“bener juga,,neng Bunga mandinya jangan lama-lama ya,,****** Mbah udah gak sabar nih pengen ngumpet lagi di dalem memek neng,,”.
“ok deh,,Mbah,,yaudah, Bunga mandi dulu ya”. Lalu aku menuju kamar mandi untuk membersihkan noda sperma yang telah mengering, juga untuk membuat tubuhku wangi kembali.
Setelah mandi, aku langsung menuju Mang Karyo dan Mbah Tanto yang sudah tidak sabar menunggu untuk memasukkan penisnya ke dalam mulut, anus, atau vaginaku. Karena jamu Mbah Tanto, mereka yang tadinya sudah perkasa dalam hal menyetubuhiku, kini mereka tambah perkasa karena penis mereka tidak bisa tidur alias ngaceng terus sehingga mereka terus memompakan penis mereka dan mengosongkan air mani mereka ke dalam tubuhku hingga berjam-jam nonstop, sampai-sampai aku pingsan karena sudah tidak ada tenaga lagi. Karena itu aku tidak tau apa yang mereka lakukan terhadapku karena aku sudah tidak sadarkan diri. Aku hanya bisa berharap agar lubang vagina dan anusku tidak luka. Tiba-tiba aku tersadar dan bisa membuka mataku, aku menyadari kalau aku tidur dengan dihimpit oleh Mang Karyo yang ada di depanku dan Mbah Tanto yang ada di belakangku. Tapi, tetap saja efek jamu itu belum habis karena aku merasakan kalau penis Mang Karyo yang masih menancap di dalam vaginaku dan juga penis Mbah Tanto yang masih tertanam di dalam anusku masih berada pada ukuran maksimalnya, tapi karena aku sudah lemas dan ngantuk sekali aku tidak memikirkan itu, dan aku menutup mataku agar badanku bisa segar dan bisa melayani mereka lagi esok har